Siapa yang tidak tertarik dengan negeri para oppa ini? Apa lagi kalau kalian orang yang doyan nonton drama Korea pasti sudah sering tergiur dengan street food dan makanan Korea. Kebetulan, perjalanan kali ini membawa Fiony menuju Jeju.
Winter dan Jeju sebuah kombinasi paling mantap yang pernah gue rasakan. Pertama kali yang terlintas di benak gue ketika mama bilang kita ke Jeju pas winter adalah gue menggigil kedinginan bahkan pilek soalnya, Bandung saja sering kali tidak bersahabat dengan gue.

Pulau Jeju merupakan pulau terbesar di Korea Selatan. Beruntungnya, kalian tidak memerlukan visa untuk datang ke Jeju (Update: Semenjak akhir Januari 2020, pemerintahan Korea sudah menerapkan visa untuk masuk ke Jeju dikarenakan virus Corona yang merajalela) dan kali ini, Fiony mencoba satu (1) musim baru yaitu Winter. Perjalanan kali ini berlangsung selama empat (4) hari dengan transit melalui Kuala Lumpur terlebih dahulu.
Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Jeju berlangsung selama enam jam! Percayalah, lebih baik kalian tidur dan makan di dalam pesawat. Jeju berbeda dua jam dari Indonesia. Jadi, misalkan di Jakarta pukul 13.00 di Jeju sudah pukul 15:00. Perkiraan suhu berdasarkan apps Windy sekitar 7 derajat celcius, tidak sedingin di Busan atau Seoul yang sudah mencapai minus! Akan tetapi, udara kencang di Jeju sering kali membuat gue nyaris membeku. Di Jeju sendiri matahari terbit pukul 07.30 dan matahari terbenam pukul 18.00, rata-rata toko tutup pukul 21:00.
JEJU STAZ ROBERO

Hotel Jeju ini berada di seberang Mokgwana Jeju (former goverment office) dan kurang lebih 15 menit dari Jeju International Airport menggunakan taxi (sekitar 2 km). Bisa dibilang, hotel ini oke banget untuk kalian yang pengin menjelajahi Jeju City. Dari depan hotel pun kalian bisa langsung masuk ke dalam Jungang Underground Shopping Center, dan menembus ke berbagai area salah satunya Dongmun Market. Apalagi di cuaca dingin seperti ini, menurut gue masuk ke Jungang dengan mudah merupakan keunggulan tersendiri. Kalian tidak perlu menerjang angin dan kedinginan untuk mengexplore Jeju dengan mudah.
Untuk kamarnya sendiri menurut gue sangat bersih karena setiap hari ada layanan pembersihan kamar. Hanya saja di kamar mandi nggak ada semprotan air sehingga cukup susah buat orang-orang Indonesia macam kita yang kalau pup harus melakukan “ritual” pembersihan khusus.
Hotel Staz Robero: https://www.traveloka.com/id-id/hotel/south-korea/staz-hotel-jeju-robero-1000000530002
JEJU MOKGWANA
- Jam Operasional: 09:00-18:00
- Alamat: 13 Gwandeong-ro 7(chil)-gil, Samdo 2(i)-dong, Jeju-si, Jeju-do, Korea Selatan
- Harga Masuk: Adult (1500 won), Youth (800 won), Child (400 won)
- Cara ke tempat ini: kalau gue cukup dengan menyebrang tempat ini, kalau kalian naik bus bisa naik nomer 200, 300, 500 (turun di terminal Gwandeokjeong (Mokgwana))
Jungang Underground Shopping Mall

Kalau dari depan Mokgwana, kalian bisa langsung melihat pintu masuk Jungang Shopping Mall. Shopping mall ini berada di bawah tanah (basement) dan menurut gue sangat amat menarik untuk dilewati. Di sini banyak sekali yang jualan baju (tapi masih mahal kalau kalian konversi ke IDR), sepatu, maupun skincare. Pokoknya, di bawah sini bisa jadi menjadi surga bagi kalian pengguna skincare Korea. Banyak sekali diskonan di sini contohnya enam handcream Tony Moly harganya 10.000 won, beli sheetmask 10 gratis 10, atau Nature Republic 3 jar dengan harga 13.200 won (sekitar 55 ribu rupiah per jar).
Tempat ini merupakan tempat yang layak dikunjungi bagi kalian yang mau memberikan oleh-oleh berupa skincare untuk teman dekat atau kerabat. Di sini banyak toko seperti Innisfree, Etude House, Tony Moly, Nature Republic dan lainnya. Tapi, kalau gue hitung harga Inisfree di sana beda tipis banget ya sama di Indonesia, jadinya gue nggak mampir-mampir ke sini hahaha.
Note untuk kalian:
- Exit 2: Dongmun Market gate 4 (tepat di sebelahnya ada Daiso)
- Exit 3: Chilsungro Shopping Center
- Exit 5: Tapdong Square (ada Starbuck beberapa meter dari sana)
- Exit 8: Jungangro Shopping Center
- Exit 11: Jeju Mokgwana
- Exit 12: Staz Robero Hotel
Oh iya, gue baru tahu juga ternyata ketika tokonya udah tutup pun kita bisa lewat jungang ini. Meski kadang penghangatnya sudah dimatikan, setidaknya kalian tidak ketiup angin gitu kedinginan. Gue pernah lewat Jungang jam 7 pagi sebelum dia buka dan setelah jam 9 setelah toko pada tutup.
Dongmun Market
Bisa dibilang Dongmun Market adalah lokasi yang paling gue kangenin di area Jeju City. Kalian wajib wajib wajib banget untuk mampir ke Dongmun Market lebih dari satu kali. Dongmun Market bisa dibilang sebagai “pasar” bagi orang Jeju. Di dalam sini kalian bisa lihat orang berjualan mulai dari sayur, ikan, daging, buah, oleh-oleh sampai street food.
Tara, kalian bisa slide untuk ikut jalan-jalan online Dongmun Market:
Sebenarnya, kunci untuk tahu makanan yang enak di Dongmun itu dengan cara menjelajahinya. Di sini ada banyak sekali makanan yang bisa kalian coba. Kalau kalian tertarik juga, kalian bisa makan makanan mentah kayak gurita yang dipotong hidup-hidup, sea cucumber, sea snail atau abalone. Kalau kalian ada di Jeju, jangan pernah lupa membeli jeruk halabong dan tangerine mereka karena jeruk mereka itu benar-benar manis ditambah lagi tanpa biji satu pun. Segar banget! Oh ya, fun fact-nya adalah jeruk khas Jeju ini justru panen di musim dingin loh.
Harga jeruk di sana pun bervariasi. Mulai dari 3000 won kalian sudah bisa menikmati jeruk manis ini loh. Dan sedikit saran dari gue, kalau kalian mau beli oleh-oleh lebih baik kalian explore dulu Dongmun. Jangan sampai kalian mengalami kejadian serupa seperti gue yang mendapatkan cokelat khas Jeju 10 box seharga 10.000 won (padahal dengan harga serupa kalian bisa dapat 15 box). Rasanya ulu hati (serta dompet) ini sakit sekali hahaha. Di Dongmun Market ini banyak banget pintu masuk dan pintu keluarnya. Tapi, ini ada sedikit guide pintu bagi kalian ya:
- Gate 4: sayur, buah + oleh-oleh
- Gate 8: street food gerobak
- Gate 1: Hotteok
- Gate 2: sayur, ikan, daging
Gue hanya mengingat sedikit gatenya saja, tapi kalau kalian masuk dari gate manapun sebenarnya bisa “nembus” kok. Yang perlu kalian lakukan adalah jalan menyusuri gang-gang, dan mereka punya papan direksional di bagian atas untuk memberitahu arah menuju tiap gate.
Dari gate 2, gue kebetulan menemukan sebuah restoran untuk makan ikan makarel di sebelah kiri tidak jauh dari gate. Kalau ada orang yang menawarkan kalian untuk beli ikan, tanya aja ke orangnya kalau mau makan di tempat bagaimana. Nanti dia bakal menunjukkan pintu masuknya
Gue udah penasaran banget sama marinated crab dari lama dan puncaknya itu pas drama “When The Camellia Blooms“. Akhirnya, di sini ada dong! Saat pertama kali mencoba, gue akhirnya mengerti mengapa kepiting di sana bisa di-marinated. Jadi kepiting di sana itu cangkangnya tidak keras seperti kepiting lokal kita. Rasa marinated crab-nya jelas asin sekali, tapi sangat cocok bersanding dengan bubur abalone yang disajikan sedikit hambar.
Selain itu, rasa ikan makarelnya top banget! Kalian wajib banget makan ikan di Jeju karena di sini ikannya benar-benar segar dan bahkan daging ikannya terasa manis dan tidak ada rasa amis sedikit pun. Jadi cuma di-grill aja udah kerasa manis dan enak banget. Untuk rasa bubur abalonenya sebenarnya tidak terlalu spesial, tapi kalian harus cobain setidaknya satu kali karena Jeonbokjuk ini merupakan bubur khas dari Jeju. Dari satu sampai sepuluh, kuberikan nilai sembilan untuk makanan ini. Ya ampun, saat mengetik ini saja gue udah merindukan makanan Jeju.
- Jam Operasional: 08:00-21:00
- Alamat: 20 Gwandeong-ro 14(sipsa)-gil, Idoil-dong, Cheju, Jeju-do, Korea Selatan
- Cara ke tempat ini: masuk lewat jungang dan keluar di exit 2
DOMBEDON (NON HALAL)
Kalian pasti pernah dengar makanan khas Jeju yang namanya Black Pork. Nah, sekarang ini kita sedang mencoba makanan non halal yang selalu dibilang surgawi sama para youtuber atau artis Korea. Dan kebetulan dari Dongmun Market kalian bisa jalan kaki ke tempat ini (atau mungkin naik taxi kalau kalian malas jalan). Jadi, di sana black pork itu berada di satu area gitu dimana di kanan kiri sepanjang jalan itu isinya restoran black pork.

Jadi di resto Jeju, kamu harus pesan dua porsi untuk dua orang. Kalau misalnya kamu mau bagi dua sama teman atau keluarga kamu ya, tidak bisa. Ini aja gue pesan porsi dua orang, tapi sampai tidak habis makanannya. Porsi orang Korea entah kenapa besar sekali. Padahal gue biasanya doyan makan dan porsi makan gue juga bukan porsi kucing. Tapi, di Korea, makanan gue sering kali tidak habis.
Cara panggangnya juga sama seperti resto-resto BBQ di Indonesia. Nanti setelah dipanggang kalian bisa bungkus pakai daun selada. Tapi di sana ada satu jenis daun lagi namanya Perilla. Gue nggak suka banget sama jenis daun yang satu ini soalnya rasanya agak mint-mint gitu dan manis. Tekstur daunnya kayak ada sedikit bulu-bulu gitu. Pokoknya aneh banget lah hahaha.
Sedangkan dagingnya sendiri, gue merasa rasanya oke. Kalau dinilai dari dagingnya aja tanpa dibungkus daun, samchan lemaknya tidak eneg kayak daging di Indonesia ya. Lembut banget fix. Bahkan tidak ada bau-bau khas babi gitu. Dagingnya chewy dan enak menurut gue. Tapi, i’m not a fan of pork jadi gue kurang merindukan makanan ini. Jadi, ya kayak buat sekadar mencoba dan gue tidak berpikir ingin makan ini lagi (kalau misalnya dikasih kesempatan balik ke Jeju). Tapi buat kalian yang doyan daging babi, ini jelas makanan yang bisa memuaskan kalian.






Dari semua resto gue makan, Dombedon memberikan side dish terbanyak. Mereka tidak pelit memuaskan pelanggan mereka. Foto di atas merupakan side dish yang kami terima dan gue menyukai kimchi jjigae dan telur kukus mereka. Ada juga kimchi, tauge, rumput laut dan fish cake yang diberi bumbu manis. Gue sendiri tidak mengenal nama side dish satu per satu, tapi semuanya enak banget banget, kecuali bagian daun bawang dan yang berwarna pink (sepertinya lobak).
Kalau side dish kalian habis, angkat aja tangan kalian dan bilang ke orangnya sambil menunjuk mangkuk kosong kalian: “igo jusseyo” yang artinya tolong yang ini lagi. Hahaha, act like a local. Dan kalian bisa pesan nasi goreng yang menurut orang enak banget. Tapi, sayang sekali nasi goreng ini menggunakan perilla leaf, jadi gue tidak bisa makan. Gue cuma mencoba 2-3 suap dan akhirnya menyerah. Uniknya, karena nasi ini di”oseng” di tempat kita bakar daging, wangi dari daging dan kimchi terasa masuk ke dalam nasi dan ada kerak nasi yang membuat tekstur nasi goreng ini lain dari yang biasanya.

- Jam Operasional: 11:00-00:00
- Alamat: 25 Gwandeong-ro 15(sibo)-gil, Geonip-dong, Jeju-si, Jeju-do, Korea Selatan
- Harga makanan: 2 porsi daging + nasi goreng 49.000 won
Jadi…. segitu dulu diary gue untuk hari pertama di Jeju City. Jangan lewatkan juga day 2 dengan itinerary yang padatnya naujubilah. Ciao, fellas.


















