Itinerary Terpadat! 8 Tempat Wisata Dalam Waktu 8 Jam – Day 2 (19 Jan ’20)

Menurut gue, haram hukumnya kalau jalan-jalan tidak explore kota itu secara menyeluruh (alias cuma di hotel dan explore sekitarnya), apalagi gue termasuk orang yang sekalinya jalan keluar subuh sebelum matahari terbit dan pulang sering kali nyaris tengah malam. Maka dari itu, mari kita mulai perjalanan kita:

Woojin Haejangguk


  • Jam Operasional: 06:00-22:00
  • Alamat: 831, Samdo 2(i)-dong, Jeju-si, Jeju-do, Korea
  • Cara ke tempat ini: dari hotel gue cuma berjalan kaki sekitar 10 menit (kalian bisa ikutin naver maps)

Masih teringat dengan jelas bagaimana riuh mangkuk dan sendok berdenting di pagi itu. Padahal, matahari masih belum terbit dan hembusan angin membuat semua orang menggeliat kedinginan tetapi hal itu seakan tidak menghalangi produktifitas orang Korea. Dari subuh saja, resto ini penuh dan banyak yang mengantri. Sarapan di Woojin Haejangguk merupakan pengalaman pertama yang tak terlupakan tentang bagaimana gue harus memesan makanan tanpa mengerti satu hangeul pun. Padahal sebelumnya gue dan mama gue udah mencoba melakukan translate terlebih dahulu. Eh, sampai di sana semua malah buyar.

Buat kalian yang sama awamnya seperti gue, pasti merasa percuma menonton drama Korea selama ini. Akhirnya yang ada gue hanya asal menunjuk menu tanpa tahu sebenarnya apa yang gue pesan. Begitu makanan datang, gue baru tahu kalau yang gue pesan itu yachaejeon (yang harganya 15.000) dan momguk (posisi kedua dari kiri gambar).

Yachaejon merupakan pancake sayuran yang rasanya mirip sekali dengan gorengan bala-bala dengan isian seperti buncis dengan irisan cabai yang dapat menjadi jebakan kecil. Tetapi anehnya yanchaejon tidak memberikan tekstur crispy seperti yang gue bayangkan, bahkan bagian tengah pancake ini terasa seperti belum matang sepenuhnya. Pancake ini seharga 15.000 won (sekitar 190 ribu rupiah) dan menurut gue sangat tidak worth it jika dibandingkan dengan gorengan bala-bala yang menyajikan konsep serupa. Jujur aja, gue sedih sekali tidak bisa memakan ini sampai habis. Sebenarnya gorengan ini cukup unik dan masih bisa dimakan. Ukurannya yang berkisar 10-15 cm lebih cocok disantap untuk 4 orang.

Makanan kedua kita dan yang terutama adalah momguk yang merupakan salah satu makanan masterpieces dari Jeju. Jadi ceritanya di masa dulu itu pulau Jeju itu pulau miskin yang kekurangan makanan. Saat acara besar seperti pernikahan, warga Jeju akan berkumpul dan memasak momguk.  Sup ini dibuat menggunakan tulang babi yang direbus hingga mengeluarkan kaldu yang sedikit kental dipadu dengan rumput laut yang sepertinya diiris tipis. Di bagian atasnya terdapat potongan daun bawang segar dan wijen putih sehingga sup ini begitu wangi ketika dihidangkan. Menurut gue, sup ini sebenarnya enak akan tetapi cukup beratuntuk dijadikan sarapan sehingga satu porsi sup ini dapat dimakan dua orang. Sayangnya kita dilarang melakukan hal tersebut.

Untuk side dish kimchi sawi dan lobaknya bisa dibilang the best dari semua side dish kimchi yang gue makan di sana (meski semua kimchi bisa dibilang sangat lezat). Rasa lobak dan sawinya itu benar-benar segar, tidak pedas maupun terlalu asam. Menurut gue kombinasi rasa ini terbilang sangat pas dengan teksturnya yang kriuk. Bahkan gue berharap bisa membuat ASMR hanya dengan kimchi di Woojin. Pokoknya enaknya kebangetan! Oh ya, kalau misalnya kalian datang ke sini dan kehabisan side dish, kalian tidak perlu repot memanggil pelayan karena semua side dish di Woojin self-service (mereka menyediakan tempat yang isinya side dish semua). 

Sebenarnya, menu andalan dari Woojin Haejangguk itu yukgaejang (spicy beef soup with vegetables), meski bentukannya tidak menggoda entah mengapa mayoritas orang yang makan di sana memesan menu tersebut dan setelah pulang gue melihat review orang yang mengatakan kalau rasanya enak banget. Anehnya, kenapa gue nggak menunjuk makanan orang saja ya? Mungkin ini pertanda harus balik lagi ke sana (HEM, MAUNYA AJA ITU MAH HAHA)

Menu andalan Woojin Haejangguk

Sebelum membahas perjalanan itinerary terpadat, gue akan menjelaskan bagaimana gue berkeliling Jeju. Sebelumnya sudah gue bahas kalau Jeju itu pulau yang besar ditambah lagi dengan jarak antar tempat wisata yang jauh. Kalau menurut beberapa pengalaman orang, kalian bisa kok memakai bus untuk menghemat biaya. Tetapi, karena waktu gue sedikit dan gue ingin mengexplore banyak tempat, akhirnya gue menyewa taxi. Di sisi lain, gue juga tidak menyesali keputusan ini. Setelah sampai di sana, gue menyadari bahwa bus jarang lewat dan jalanan itu sepi. Coba bayangkan, gue sendirian bersama angin kencang akibat winter menunggu bus yang datangnya bisa sampai setengah jam sekali. Bisa-bisa gue mati kedinginan duluan. Oke deh, kembali lagi ke topik dimana gue akan mulai perjalanan dengan 8 tempat dalam kurun waktu 8 jam:

Yongduam Rock


Yongduam Rock yang indah
  • Alamat: Yongdamroteo-ri Yongdam-2dong, Jeju-si, Jeju-do
  • Jam Buka: 24 jam
  • Estimasi Biaya: free

Lokasi pertama perjalanan ini membuat mata gue terbuka lebar. Jeju memang sebagus itu, berpadu dengan suasana tenang yang seolah mengajarkan bahwa kita perlu duduk sejenak. Yongduam Rock terkenal dengan batu karang yang dikatakan berbentuk kepala naga. Alkisah seekor naga mencuri giok berharga dari gunung Hala di Jeju dan membuat para dewa marah. Dewa itu membunuh naga tersebut sehingga tubuhnya membentur karang, kemudian kepalanya berubah menjadi batu.

Uniknya, batu di pulau Jeju berwarna hitam dengan warna laut yang berwarna biru muda sehingga terlihat seperti diedit menjadi warna pastel. Meski lokasinya cukup kecil, tempat ini cocok untuk duduk bersantai mendengarkan suara ombak dan burung berkoak bahkan mengobrol dengan orang terdekat sambil melihat pesawat yang melintasi angkasa.

P.S: Apa cuma gue yang merasa kalau Yongduam Rock ini mirip siluet Night Fury dari “How To Train Your Dragon“?

MYSTERIOUS ROAD


Mysterious Road yang unik
  • Alamat: 2894-63 1100(Cheonbaek)-ro, Nohyeong-dong, Jeju-si, Jeju-do, Korea Selatan
  • Jam Buka: 24 jam
  • Estimasi Biaya: free

Jalanan ini unik banget! Bagaimana bisa mobil yang dimatikan dapat berjalan sendiri bahkan minuman kaleng dapat menggelinding sendiri sementara jalan begitu rata dan terlihat menanjak lurus? Jalanan ini ditemukan oleh sepasang suami istri yang menepikan mobil untuk mengambil foto. Ternyata, mobil mereka berjalan sendiri padahal sudah direm. Alhasil, jalanan ini menjadi terkenal dengan nama dokkaebi road (jalanan siluman)

Sebenarnya jalanan ini cuma sekitar 100 meter jadi, kalian tidak perlu lama-lama mampir ke tempat ini. Cukup duduk di mobil dan melihat keajaiban alam, atau mungkin turun dari mobil dan taruh kaleng minuman kalian di jalanan. Beberapa orang juga bilang kalau kalian menuangkan air, air tersebut akan mengalir ke atas. Tapi gue tidak mencoba metode ini karena menurut gue kayaknya tidak mungkin juga bisa mengalir ke atas soalnya masih ada gravitasi. Oh ya, jangan lupa untuk foto sebagai bukti kalau kalian pernah datang ke tempat ini.

HALLASAN (HALLA MOUNTAIN)


Hallasan ketika winter
  • Alamat: 2070-61, 1100-ro, Jeju-si, Jeju-do (제주특별자치도 제주시 1100로 2070-61)
  • Jam Buka: sepertinya selalu buka (kalau jam buka setiap jalur pendakian bisa dicek di google)
  • Estimasi Biaya: Free

IT’S THE BEST PART OF MY JOURNEY! Winter tidak akan pernah lengkap tanpa adanya salju dan Hallasan merupakan satu-satunya tempat dimana kamu dapat melihat salju di Jeju. Sebetulnya, gue cukup was-was sebelum datang ke sini soalnya ada beberapa orang dari grup backpacker yang memposting kalau mereka tidak menemukan salju di hallasan. Gue dan mama gue cuma bisa berdoa semoga saja kita bisa ngelihat salju.

Ternyata, begitu gue sampai di lahan parkiran, lokasi ini turun salju! Di sepanjang perjalanan kalian bisa melihat kalau salju bertengger manis di dahan pohon, menutupi sisi jalanan dan membuat lokasi ini nyaris seperti Narnia. Meski hujan salju yang turun tidak lebat, setidaknya, gue bisa merasakan bagaimana salju tersebut meleleh di helai rambut dan berfoto ala-ala winter. Meski Jeju merupakan tempat terhangat di Korea Selatan, Hallasan sendiri bersuhu sekitar 2 derajat celcius. Kalau kalian bertanya-tanya apakah di Hallasan dingin, jawabannya dingin banget! Tentunya kalian harus melengkapi diri kalian dengan perlengkapan perang yang sesuai. Seperti gue yang memakai longjohn + sweater + jaket, 3 lapis celana khusus winter dan sarung tangan.

Sebagai perlindungan tambahan jangan lupa juga membawa topi winter (karena udara dingin dapat membuat kepala kalian sakit), tempelkan body heatpack ke baju kalian dan masukkan hand warmer ke dalam saku jaket kalian. Bawa juga minuman panas di termos, percayalah air hangat itu sangat membantu ketika kalian kedinginan. Oh ya, ada lagi keuntungan lain dari winter menurut gue yaitu: kalian tidak perlu kelihatan langsing di foto. Kalau kalian terlihat bulat, kalian tinggal bilang kalau baju winter itu tebal dan besar.

Hallasan merupakan gunung tertinggi Korea Selatan dengan ketinggian 1.950 meter dan menjadi bagian dari UNESCO world natural heritage sejak 2007. Hallasan ini juga dipercaya sebagai salah satu gunung keramat di Asia selain Gunung Fuji di Jepang dan Gunung Hyang di China. Kalau kalian tertarik, kalian bisa mendaki Hallasan dengan estimasi waktu 4 jam untuk mencapai puncak. Di puncak sendiri dikatakan selalu bersalju dan sangat bagus. Kalau gue sih bakal mengibarkan bendera putih, bahkan kalau emang gue mendaki ke atas, gue rasa gue baru sampai waktu petang. Karena itu gue cuma bermain di area bawah pintu masuk dekat pepohonan. Jiwa anak-anak gue mulai bergejolak seperti membuat bola salju gagal, berbaring di salju dan melakukan angel swing, melemparkan salju di udara seperti tanpa beban dalam hidup.

Aneh, tekstur salju seperti es serut ya

Meskipun winter membuat bunga mengering bahkan pepohonan kehilangan daun, salju-salju ini memiliki cara sendiri untuk membuat winter semakin indah. Salju-salju seolah memeluk ranting-ranting rapuh dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Lucunya lagi, banyak sekali pepohonan yang berjuang tanpa menyerah meski udara dingin yang menusuk tulang. Tanpa sadar, winter mengajari gue banyak hal dan membuat gue berharap untuk bertemu dengan salju lagi.

YONGMEORI COAST


Wonderful scenery of Yongmeori Coast
  • Alamat: 18-10, Sanbang-ro, Andeok-myeon, Seogwipo-si, Jeju-do
  • Telepon: +82-64-794-2940
  • Estimasi Biaya: yongmeori coast (adult: 2000 won, youth & children: 1000 won), yongmeori + sangbangsan (adult: 2500 won, youth & children: 1500 won)
  • Jam Operasional: ketika air tidak pasang

Yongmeuri Coast merupakan tempat wisata yang menurut gue tempat yang menarik dan bertempatan dekat gunung Sanbangsan. Tempat ini merupakan formasi tertua yang terbentuk dari volcanic (erupsi lava) dan entah kenapa kalau di foto Yongmeori memiliki “vibe” yang serupa dengan Antelope Canyon yang ada di Arizona, Amerika Serikat. Yongmeori memiliki arti “kepala naga” dan menjadi Jeju Geopark. Meski sama-sama berarti kepala naga dengan Yongdam Rock, Yongmeori memiliki sebuah legenda yang berbeda.

Dari legenda tersebut dikatakan kalau Emperor Jin dari China mengirimkan banyak prajurit untuk membunuh naga Yongmeori karena ia khawatir akan ada kemunculan sebuah pemimpin yang hebat dari Yongmeori (Naga disimbolkan sebagai pemimpin hebat telah lahir). Jadi, ketika naga tersebut masuk ke dalam laut, prajurit itu memotong kepala naga dan darahnya menyembur kemana-mana. Melihat hal tersebut Hallasan menjadi murka dan dewa mengirimkan angin topan untuk membunuh semua prajurit China tersebut sebagai pembalasan.  

Dari lapangan parkir kalian masih perlu berjalan masuk untuk menuju loket pembayaran, kalian akan melihat sebuah kapal besar di sebelah kanan dan ladang canola di sebelah kiri. Kapal ini merupakan Hamel Castaway Memorial untuk mengingat Hendrick Hamel, seorang pelaut Dutch yang terdampar ke pantai Jeju karena angin topan pada 1653.

Hamel Castaway Memorial

Begitu masuk ke dalam coast, percayalah kalian akan terpana dengan batu-batu indah yang seolah dipahat perlahan oleh seseorang. Di sebelah kiri terdapat coast dan di sebelah kanan terdapat lautan. Kalau kalian memutari lokasi ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam. Pastikan kalian memakai sepatu yang sesuai dan berjalan dengan hati-hati karena ombak yang menghempas seringkali meninggalkan genangan air pada jalanan berbatu ini.

Saat gue datang ke sini, terdapat sekumpulan bapak-bapak yang memancing di sini berlatarkan Gunung Sangbangsan sehingga terlihat seperti lukisan. Di beberapa sudut juga kalian bisa menemukan tante/nenek yang berjualan nakkji seperti sea cucumber, octopus maupun sea snail. Menurut gue, lokasi ini memiliki keunikannya sendiri dengan bebatuan yang indah dan suasana yang tenang. Ditambah lagi lokasi ini cocok dengan hamba konten! AHAHHA di setiap sudut Yongmeori sangat instagramable. Kalian tidak perlu bergaya macam-macam agar terlihat bagus di dalam foto karena orang-orang akan lebih kagum dengan pemandangan yang ada.

Kalau kalian datang ke sini, alangkah baiknya kalau datang di pagi hari karena semakin sore ombak akan semakin besar dan lokasi ini akan ditutup (dikatakan kalau jam tutupnya 13:00). Kalau mau lebih yakin lagi, kalian bisa menelepon terlebih dahulu untuk memastikan kalau tempat ini buka. Begitu kalian keluar, kalian bisa melihat kembali ladang canola dan kapal besar tadi. Kalau kalian mau foto di ladang canola, kalian perlu membayar sebesar 1000 won per orang. Di dekat kapal Hamel sendiri terdapat patung yang gue tebak merupakan patung Hamel. Kalau kalian ada waktu lebih, bolehlah kalian mampir dan ngopi cantik di café yang terlihat bagus ini.

Coffee Sketch

Cheonjeyeon Falls


  • Alamat: Korea Selatan, Jeju-do, Seogwipo-si, Jungmun-dong, 2232
  • Estimasi Biaya: Adult 2500 Won, Children & Adult 1350 Won
  • Jam Operasional: 08:00-18:00

Kalau kalian mau ke sini gue ingatkan jangan sampai salah spelling atau ngetik untuk ngasih tahu ke supir kalian. Soalnya di Jeju ada waterfall yang namanya mirip: Cheonjiyeon (cuma beda 1 huruf loh tapi lokasinya beda). Cheonjeyeon dikatakan sebagai pond of the emperor of heaven. Menurut legenda, tempat ini menjadi tempat mandi tujuh bidadari, seperti legenda Jaka Tarub milik kita. Bedanya, orang Korea tidak mengambil selendang bidadari hahaha. Cheonjeyeon sendiri memiliki tiga tingkatan air terjun.

Dari pintu masuk, gue berjalan dan bertemu dengan Cheonjeru Pavilion yang menjadi tempat berlangsungnya festival 7 bidadari. Setelah itu terdapat sebuah jembatan yang dinamakan Seonimgyo Bridge yang berarti jembatan 7 bidadari. Beberapa orang sering berfoto di jembatan ini atau berlatarkan jembatan ini. Sayangnya karena banyak ranting pepohonan, jembatan ini jadi kurang terlihat. Dan dari sini kalian akan melihat papan petunjuk menuju tingkatan pertama.

NOTE: persiapkan kaki kalian karena lokasi ini cukup membuatmu berolahraga.

Air terjun pada tingkatan pertama ini hanya ada saat hujan lebat, jadi kalau tidak hujan kalian hanya akan melihat sebuah kolam raksasa yang menjadi sumber dua air terjun lainnya. Kolam ini sedalam 21 meter dan pada zaman kuno akan ada orang yang berdiri di bawah air terjun pada hari Cheoseo (pada akhir Agustus) untuk menerima air suci yang dikatakan dapat menyembuhkan penyakit dalam sebulan. Tapi, saat ini lokasi ini melarang pengunjung untuk berenang, berendam atau masuk ke dalam air (mungkin karena takut ada korban yang terseret air atau serangan jantung karena airnya dingin). Air di kolam ini sangat biru dan jernih hingga kalian dapat melihat bebatuan di dalam kolamnya. Sayangnya, lokasi ini berbahaya kalau hujan lebat, tapi mengunjungi kolamnya saja sudah dapat mencuci mata.

Lanjut ke tingkatan kedua, kalian perlu berjalan dan menuruni anak tangga sekitar 500 meter. Karena kemalasan yang melanda, gue dan mama gue Cuma foto dari anak tangga atas dan jelas, setelah pulang ke rumah kita menyesal tidak mendatangi air terjun yang kedua ini. Di fotonya bagus dong, dan menurut beberapa orang lokasi air terjun kedua merupakan yang terbaik di antara ketiganya. Jadi, kalau kalian datang ke sini pokoknya jangan pantang menyerah untuk jalan ya.

Dan dari tingkatan kedua kalian perlu berjalan lagi sekitar 1 km (jelas gue udah bye bye sama air terjun ini) dan gue lihat dari blog beberapa orang mereka fotonya dari atas gitu, tidak sampai ke bawahnya. Jadi, gue kurang tahu juga apa kalian bisa turun ke air terjun yang ketiga.

Kalau kalian di sini, kalian bisa menemukan banyak tap water. Percayalah, air di sana super-duper enak. Semacam air gunung asli gitu yang dingin dan menyegarkan. Gue tidak tahu apa karena winter, atau memang airnya seperti itu. Tapi, air di sana merupakan air tap terbaik yang pernah ada. Gue baru kepikiran sekarang… apa tap water itu juga bisa menyembuhkan penyakit ya?

YAKCHEONSA TEMPLE


  • Alamat: 293-28 Ieodo-ro, Daepo-dong, Seogwipo-si, Jeju-do, Korea Selatan
  • Jam Operasional: tidak diketahui
  • Estimasi Biaya: Free

Kuil ini gede banget! Ditambah lagi dengan suasana hening dan tenang khas kuil Buddha. Yakcheonsa Temple telah berdiri sejak 1970 yang didirikan oleh biksu Buddha. Kuil ini dikatakan sebagai salah satu kuil terbesar di Korea dengan luas 3.305 meter dan tinggi 30 meter. Selain itu terdapat lonceng buddha seberat 18 ton dan memiliki aula doa terbesar dengan patung buddha mini yang berlapis kaca Di sepanjang jalan kuil ini terdapat pohon-pohon jeruk, dan gue menemukan buah jeruk terbesar yang pernah gue lihat. Jeruk itu sebesar dua telapak tangan gue yang disatukan! Daebak. Kalau gue baca dari wikipedia, dulu kuil ini disebut sebagai “Dwaeksaemi” yang berarti a mineral spring with good quality water. Dikatakan kalau mata air mineral itu dapat menghapus penderitaan semua makhluk hidup, makanya kuil ini didirikan dengan tujuan tersebut. Kalau menurut gue sendiri, temple ini sangat bagus untuk foto karena ornamen di dalamnya sangat berwarna.

Jusangjeolli Cliff


  • Alamat: 36-30, Ieodo-ro, Seogwipo-si, Jeju-do
  • Estimasi Biaya: Adult 2000 won, children & youth 1000 won
  • Jam Operasional: 09:00-18:00

Lokasi ini terletak tidak jauh dari ICC Jeju (International Convention Center) yang merupakan satu-satunya ICC di pulau Jeju. Percaya atau tidak, lokasi ini jauh lebih dingin dari pada Hallasan yang mempunyai salju. Aneh bukan? Hal ini dikarenakan angin sore yang bertiup sangat kencang sampai-sampai gue kesulitan untuk foto karena udaranya yang dingin terus membuat kamera gue jadi berkabut. Winter dan sore hari sepertinya bukan kombinasi yang tepat untuk datang ke Jusangjeolli Cliff.

Jusangjeolli Cliff yang dinobatkan menjadi UNESCO Geoparks merupakan pilar batu (tebing) yang terbentuk dari lava erupsi Hallasan yang bermuara ke laut Jungmun. Struktur tebing ini sendiri unik sekali karena ia menyerupai pilar yang bertumpuk secara vertikal. Belum lagi ditambah dengan deburan ombak yang membuat tebing ini semakin eksotis.

Tapi yang tidak bisa gue lupakan dari tempat ini bukannya yang fenomenal, tetapi odeng yang dijual di sana. Sebenarnya ada beberapa makanan lain seperti octopus bread (pancake berbentuk gurita isi mozarela), sate octopus, bahkan es krim halabong. Tapi bisa dibilang, udara dingin membuatmu membutuhkan sesuatu yang hangat. Odeng beserta kuah panasnya sangat klop untuk menghangatkan dirimu.

O’ssuloc Tea Museum + Innisfree Café


Tempat terakhir yang menjadi target wisatawan adalah café innsifree dan O’ssuloc. Kedua café ini bersebelahan dan di daerah ini terdapat kebun teh asli milik O’ssuloc. Kesan pertama begitu gue turun di tempat ini adalah gue jadi inget Bandung. Kalau kalian main ke daerah atas, kalian bakal menemukan banyak sekali kebun teh. Bedanya, O’ssuloc dan Innisfree tidak pernah sepi. Menurut supir kami, tempat ini selalu ramai meski kalian datang pagi sekalipun.

  • Alamat: 15, Sinhwayeoksa-ro, Andeok-myeon, Seogwipo-si, Pulau Jeju
  • Estimasi Biaya: Free (kalau pesan makanan atau beli oleh-oleh beda lagi biayanya)
  • Jam Operasional: 09:00-18:00

O’ssuloc Tea Museum

Begitu masuk ke dalam café aroma yang dapat kalian cium adalah wangi teh hijau yang menenangkan dan ternyata teh hijau ini menjadi salah satu ciri khas dari Pulau Jeju. O’ssuloc ini dimiliki oleh perusahaan kosmetik terbesar di Korea: AmorePacific dan telah dibangun sejak tahun 80-an. Di dalam café ini kalian dapat melihat museum yang memajang berbagai jenis cangkir teh dari berbagai negara, etalase sejarah produk O’ssuloc, kemudian masuk ke dalam area yang menjual teh hijau bungkusan yang dapat jadikan sebagai oleh-oleh. Tapi, jangan terkejut dengan harga tehnya yang cukup mahal. Kalau menurut orang sana, begitu kalian sampai di Ossuloc café, kalian tidak boleh lupa untuk mencicipi minuman teh dan kue roll dari teh hijau yang enak sekali. Sayangnya, karena antriannya super-duper panjang gue memutuskan untuk tidak membeli kudapan tersebut. Menurut beberapa orang lainnya juga di sini ada kelas belajar membuat teh, tapi gue kurang tahu cara buat attend acara tersebut.

Innisfree Café

Bersebelahan dengan Ossuloc, Innisfree juga bisa menjadi tempat kalian buat berbelanja kosmetik. Di sini juga kalian dapat mengikuti kelas membuat sabun natural. Jadi kalian akan disuguhi video sederhana dan mengikuti prosedur pembuatan sabun dalam waktu 15-30 menit. Di Innisfree café ini terkenal dengan jeju tangerine jam dan jeju tangerine tea yang bisa kalian beli sebagai oleh-oleh (tapi mahal bruhhh, jiwa miskin gue berteriak hahaha). Karena gue tidak terlalu menyukai keramaian, akhirnya gue hanya foto-foto dan melihat pemandangan sekitar.


Samseonghyeol Haemultang


Setelah seharian berkeliling ke 8 tempat wisata, alangkah baiknya jika kita mampir di tempat makan yang enak. Apakah kalian pernah mendengar live seafood hotpot? Mari gue perkenalkan pada sup seafood terbaik yang pernah gue makan. Bahkan bisa dibilang makanan ini merupakan makanan yang paling gue rindukan dari Jeju. Kalau misalkan gue kasih nilai dari satu sampai sepuluh, gue akan memberikan nilai sepuluh ditambah keempat jempol tangan dan kaki yang gue punya untuk makanan ini. TOP banget deh.

Apa itu live seafood hotpot? Jadi sebenarnya resto ini menyajikan sup seafood hanya saja bedanya seafood di sini benar-benar dimasak hidup-hidup. Isi di dalam hotpot ini ada berbagai jenis kerang (mungkin sekitar 5 jenis atau lebih), abalon, cumi dan gurita, tauge dan 1 ekor kepiting yang dibelah dua.  Begitu kalian sampai, kalian bisa memesan porsi makanannya mulai dari untuk dua sampai lima orang. Buat kalian pencinta seafood, kalian bisa memesan porsi tiga orang seperti yang gue lakukan. Percayalah, awalnya gue pikir gue maruk dengan memesan porsi tiga orang padahal makannya cuma berdua. Tapi begitu menyicipi kuah sup ini, gue bahkan tidak bisa lagi menaruh sumpit dan sendok gue hingga makanan benar-benar habis.

Gue datang sekitar pukul 17:00 dan resto ini sudah lumayan ramai. Begitu pukul 17:30 atau 18:00 (gue kurang yakin) semakin banyak orang yang datang untuk makan. Mungkin jam segitu merupakan jam makan malam. Kalau gue lihat, semua orang cuma memesan seafood hotpot ini, banyak juga yang memesan soju dan makgeolli (arak beras). Di resto ini juga banyak menu lain yang berhubungan dengan seafood tetapi yang paling terkenal memang hotpotnya. Dan teman-teman, I really recommend this hotpot. Rasa seafoodnya begitu segar tanpa rasa amis sedikit pun, kuahnya sendiri tidak terlalu asin (bahkan sepertinya tidak menggunakan MSG) dan tidak pedas meski warnanya merah seperti kimchi jiggae.

Oh ya, di sini juga kalian hanya perlu makan karena ada pegawai yang datang membantu kalian seperti memotong gurita menjadi kecil-kecil, mengeluarkan semua daging kerang dari cangkangnya, dan memotong abalone. Kalian bakal disuruh makan cumi dan guritanya duluan karena tekstur keduanya itu akan semakin alot. Selain itu juga, kalian bisa memesan nasi yang tentunya enak disantap bersama kuah hotpot. Gue tahu ini kedengarannya bikin kenyang, tapi orang Korea di sana anehnya juga memesan nasi putih meski sudah diberikan mie (seperti shin ramyun tanpa bumbunya) secara gratis. Aneh sekali ya, kenapa orang Korea itu tubuhnya langsing-langsing padahal porsi makan mereka kelewat banyak?

Selain itu gue punya saran nih… lebih baik kalian memasak mie tersebut ketika hotpot kalian sudah setengah habis. Selain agar mie tidak membengkak, kaldu seafood dapat lebih menyerap dan dijamin enak banget. Shin Ramyun? Indomie? Beuh, rasanya lewat! Kalah banget dengan kegurihan seafood yang benar-benar fresh. Untuk side dish-nya, gue hanya bisa memakan dua macam; kimchi sawi dan teri. Sejujurnya pertama kali gue makan teri itu di sini, dan gue bilang side dish teri ini ENAK BANGET YAAMPUN. Enaknya tuh kebangetan. Teksturnya seperti teri pada umumnya tapi tidak ada bau amis sedikitpun dan ukurannya pas untuk dikunyah. Kalau side dish lainnya, gue kurang suka karena cenderung pahit dan aneh rasanya. Tapi secara keseluruhan, gue sangat suka sama makanan ini. Bahkan ketika gue mengetik part ini, gue sudah menelan air liur terus.


Sebagai akhir kata, gue menutup perjalanan hari kedua ini dengan sebuah tepuk tangan. Jeju benar-benar sebagus itu, dan di sini benar-benar tenang. Gue sampai jatuh cinta dengan Jeju dan berharap bisa pindah ke sini (mimpi aja dulu kan hahaha). Selain itu, makanan di sini mayoritas gue bilang enak banget pada gue sendiri termasuk orang yang rada picky kalau soal makanan.

Kalau dari sisi kalian membaca blog ini, tempat wisata mana yang paling membuat kalian tertarik? Kalau buat gue pribadi, Hallasan masih memegang piala emas di hati gue. Dan ternyata, semua bayangan soal winter yang menyeramkan itu buyar! Bahkan kata mama, winter suit me so well.

Oh ya, mungkin beberapa dari kalian bertanya-tanya kenapa gue bisa mendapatkan 8 tempat wisata dalam 8 jam? Kuncinya itu menurut gue pengendalian waktu a.k.a time management. Kalau misalnya tempat wisatanya bagus, kalian bisa atur terlebih dahulu spare waktu lebih lama di sana biar kalian tidak gigit jari belum puas explore tempat itu. Kalau misalkan tempat wisatanya cukup kecil atau cenderung biasa, lebih baik waktu buat explore-nya lebih sedikit.

Sebenarnya, dari setiap perjalanan tidak mungkin kita bisa explore semua tempat wisata (kecuali kalian pergi ke negara itu dalam kurun waktu yang cukup lama) apalagi, gue terbiasa “kabur” liburan dalam kurun waktu 4-5 hari. Jadi, selain pengendalian waktu menurut gue kunci penting lainnya adalah rencana perjalanan a.k.a itinerary

Rencana perjalanan itu harus disesuaikan sama keinginan kalian, biar kalian sendiri puas. Misalkan seperti gue dan mama gue, kita berdua suka hal yang berbaru alam dan kurang menyukai mengunjungi mall-mall. Jadi kita akan menyusun itinerary yang alam-alam begitu. Kalau misalkan dikaitkan dengan Jeju, sebenarnya banyak sekali tempat wisata lain yang sejalur dan terkenal. Untuk tahu tempat wisata apa saja yang bagus, kalian bisa melihat lewat instagram dengan hastag #Jeju atau mencari melalui Google tempat wisata rekomendasi khas Jeju. Tentunya, kalian harus membuat rencana perjalanan yang sejalur.

Jadi misalkan dari tempat wisata A ke B butuh waktu 1 jam, tapi kalau ke tempat wisata C dari tempat wisata A cuma butuh 15 menit. Sehingga susunan rencana perjalanan kamu itu bisa dari A ke C baru ke B. Kalau misalkan tipe kalian tipe tour, kalian bisa ikutin rencana perjalanan mereka. Tapi kalau misalkan tipe kalian yang seperti gue dan mama gue, kalian harus rajin searching-searching dan searching!

Jadi segitu aja penutup dari gue, semoga aja dengan chapter ini kalian bisa mendapatkan ilmu dan ikut jalan-jalan online. Ciao, fellas!

Jangan lupa untuk membaca part pertama dari Jeju dan ditunggu part ketiga dari Jeju ini ya…

Leave a comment