Wonderful Jeju Buat Gue Gak Mau Pulang – Day 3 (20 Jan ’20)

Sebelum kita masuk ke dalam perjalanan padat lainnya, gue akan mengajak kalian untuk sarapan ala ala backpacker. Untuk itu, mari kita mulai perjalanan kita:

GS 25


Kalau di drama Korea, kalian pasti menonton kalau mereka senang sekali sarapan atau membeli makan di market kecil seperti Alfamart atau Indomart. Bedanya kalau di sini minimarket yang ada adalah C U atau GS 25 atau Seven Eleven. Dari ketiganya, kali ini gue akan makan di GS 25. Di minimarket ini kalian bisa menemukan berbagai susu atau kopi yang muncul di drama Korea. Lucunya dari minimarket ini, harga sebotol susu dengan sebotol bir hanya beda 300 won sehingga lebih murah kalau kalian membeli bir sekalian (LOH INI MAKSUDNYA APA HAHA)

Makanan di mini market ini sangat beragam. Mulai dari sandwich, mie, sosis bahkan bubur sekalipun juga ada. Dan kali ini, gue memilih satu set nasi seperti Dosirak Menu, mama gue membeli mie dan kita tidak lupa membeli dua buah susu dan 1 gimbap untuk bekal perjalanan hari ini. Total pengeluaran kami 11.200 won dan menurut gue ini sedikit lebih ekonomis dibandingkan dengan sarapan kami di hari sebelumnya (kalau kalian mau lebih ekonomis lagi, kalian harus pintar-pintar pilih makanannya hehe). Informasi juga buat kalian, makanan di minimarket ini bisa dipanaskan juga. Semuanya ada tertulis di bagian bungkusan, meski tulisannya menggunakan hangeul gue rasa kalian bisa menebak berapa waktu dan suhu untuk memanaskannya. Kalau gue sih kemarin cuma mencocokkan tulisan di bungkus makanan dan yang tertulis di microwave (mungkin kalian bisa melakukan hal yang serupa)

Beberapa makanan enak yang dapat kalian temukan di minimarket:


Sebelum gue lebih lanjut membahas itinerary kita, gue perkenalkan dulu dengan supir kita yang recommended banget buat kalian yang mau ke Jeju dan menyewa mobil. Namanya Mr. Koh (nama lengkapnya Koh Seoung Hun aka Mr. Shawn), mobilnya mobil taxi yang cukup untuk 2-4 orang dalam satu kali perjalanan. Gue merekomendasikan Mr. Koh karena orangnya baik bahkan doyan banget fotoin kita dengan sukarela dan hasilnya bagus (apalagi dulu dia pernah jadi fotografer pernikahan gitu), orangnya nggak neko-neko, bahkan informatif banget selama perjalanan dia bakal ngajak kita ngobrol dan menceritakan tentang Jeju dan hal-hal yang perlu kita ketahui. Selama perjalanan pun dia nyetel lagu KPOP yang kekinian macam Blackpink, BTS dan lainnya hahaha.

Dia bisa berbahasa Jepang, bahasa Inggrisnya pun cukup lancar dan mudah dimengerti sama kita meski tidak 100% lancar gitu. Mr. Koh ini juga baik banget, dia buatin kita video terima kasih gitu udah menggunakan jasa dia dan menjalin hubungan baik. Yang paling gue suka selama perjalanan itu dia menyetir dengan hati-hati banget. Pokoknya kalau kalian naik mobil pasti berasa kan mana yang ugal-ugalan mana yang safety first gitu (bahkan katanya udah 25 tahun menyetir gak pernah kecelakaan). Terus dia juga bantuin kita nawar di beberapa kesempatan (ini terjadi pas gue makan nakkji)

Harga untuk menyewa per 8 jam itu 180.000 KRW dan setiap satu jam penambahan waktu dikenakan 20.000 KRW. Biaya ini udah termasuk bensin, tiket parkir, biaya makan supir. Pokoknya udah terima beres. Nah kalau kalian mau menggunakan jasa Mr. Koh kalian bisa hubungi dia di:

  • Cell Phone: 010-3524-4018
  • International Call: +8210-3524-4018
  • Email: Koh4299@naver.com
  • Facebook: Koh4299@facebook.com
  • Instagram: Seounghunkoh

Oke, balik lagi ke itinerary kita ya hehe


Woljeongri Beach


Woljeongri Beach tanpa filter
  • Alamat: 월정리 해수욕장, 540-2 Woljeong-ri, Gujwa-eup, Jeju-si, Jeju-do, South Korea
  • Jam Operasional: 24 Jam
  • Estimasi Biaya: Free
  • Transportasi: kalau gue nyewa mobil atau kalian bisa naik bus no 101 di Donggwangjang menuju Gimyeong Elementary School

Woljeongri Beach merupakan salah satu pantai dari banyaknya pantai di Jeju. Kalau menurut Tripadvisor, Woljeongri Beach menduduki posisi ke-5 pantai terindah di Jeju. Bisa dibilang kalian sisa memilih ingin pergi ke pantai yang mana karena semua pantai di Jeju itu bagus. Mungkin kalian bisa memilih pantai yang lebih sejalur dengan perjalanan kalian gitu dan kali ini gue mendatangi Woljeongri Beach. Uniknya Woljeongri Beach Jeju ini terasa begitu pastel dan cukup sepi. Meski air laut Woljeongri Beach tidak sebiru di Labuan Bajo, menurut gue Woljeongri Beach memberikan sebuah keindahan baru di balik airnya yang berwarna biru muda (emerald water).

Lautan terasa begitu serasi dengan langit yang keabuan akibat mendung. Namun begitu turun dari mobil, hal pertama yang akan kalian rasakan adalah hempasan angin yang mampu membekukan pipi kalian dalam sekejap. Kalau kalian datang pas summer, mungkin angin ini cukup pas tapi kalau kalian datang pas winter seperti gue, duh bisa-bisa jadi patung es duluan. Deburan ombak yang menyapu bibir pantai terasa menenangkan jiwa. Apalagi, Woljeongri Beach memiliki pasir pantai yang putih dan halus, membuat gue ingin membuka sepatu dan berlari-lari di sepanjang pantai. Sayangnya, lagi-lagi angin kencang membuat gue malah semakin merapatkan jaket.

Dari pantai, pemandangan yang paling indah versi gue adalah lautan yang berwarna biru muda dengan berhiaskan kincir angin raksasa yang berputar dengan semangat. Satu-satunya hal yang mencolok dari pantai ini adalah kursi berwarna-warni yang menjadi daya tarik populer. Kalau misalkan anginnya tidak kencang plus waktu kalian di Jeju cukup lama, kalian bisa duduk santai di tepi pantai atau di café trendi seberang pantai ini untuk menikmati keindahan pemandangan.

Seopjikoji


  • Alamat: 107, Seopjikoji-ro, Seogwipo-si, Jeju-do
  • Biaya Estimasi: Free
  • Jam Operasional: (sepertinya 24 jam) N/A
  • Transportasi: kalau gue nyewa mobil atau kalian bisa naik bis no 111 dari Donggwangyang menuju Susan 1-ri dan lanjut naik taxi ke Seopjikoji

Seopjikoji merupakan salah satu tempat wisata yang paling populer di Jeju. Menurut gue, mungkin ini merupakan the power of drama Korea. Di Seopjikoji ini telah beberapa kali menjadi tempat syuting beberapa drama Korea seperti: Gingko Bed, The Uprising, One Thousand and One Night, All In, Warm and Cozy. Dari tempat parkir, kalian masih perlu berjalan menanjak sebelum akhirnya menaiki tangga menuju mercusuar setinggi 4 meter dan selebar 9 meter. Di sepanjang jalan, kalian akan disajikan pemandangan lautan, hamparan padang canola, dan mercusuar dari kejauhan. Kalau kata orang, waktu yang bagus buat datang ke sini itu saat sunset dan di bulan April karena ladang Canolanya paling bagus. Di sisi kanan, kalian akan melihat lautan lepas, sedangkan di sisi kiri kalian akan melihat hamparan ladang canola yang hijau kekuningan. Dari sini pun kalian akan kelihatan Seongsan Ilchulbong (meski gue tidak “ngeh” dengan pemandangan yang satu ini).

Kalau dari dialek Jeju “seopjikoji” berarti “tanjung pulau kecil”, hal ini dikarenakan formasi tebing khasnya yang menjorok ke laut. Di sini juga terdapat sebuah gereja yang dahulu suka menjadi tempat pernikahan dan Song Hye Kyo pernah syuting di sini (di drama All In). Hanya saja, gereja ini telah berubah menjadi tempat berjualan cokelat dan permen (tapi sudah ditutup juga). Karena dekat laut, angin di sini bisa dibilang sangat kencang. Semakin kalian dekat ke mercusuar, semakin kencang pula anginnya (mungkin karena mercusuar berada di atas tebing). Kalau gue tidak bisa berlama-lama di sini karena bisa dibilang tempat ini crowded banget jadi rebutan foto sama orang apalagi anginnya kencang banget. Ternyata mercusuar ini muncul di Warm & Cozy pas Yoo Yeonseok dan Kang Sora melihat sunrise.

Kalau kata supir gue, Boy Before Flower juga pernah syuting di Mint Restaurant aka Phoenix Jeju Island Resort dekat sini (adegan minum teh) dan setelah gue baca blog orang pun ternyata di restaurant ini pernah syuting Legend of Blue Sea yang bagian makan eps.1, Orange Marmalade, Queens in Hyun’s Man. Overall, tempat ini oke buat kalian datangi ketika waktu luang dan target wisata kalian tidak begitu padat. Tapi gue pribadi merasa tempat wisata ini kurang worth it untuk dikunjungi. Oh ya, di dekat tempat parkirnya itu ada ahjumma yang berjualan cumi bakar yang wangi banget. Kalau melihat review orang, katanya rasanya enak banget juga. Mungkin kalau kalian ke sini boleh dong menyicipi cumi bakar ini.

Seongsan Ilchulbong


Perkenalkan tempat wisata paling wajib dikunjungi versi hari ini!

  • Alamat: 284-12, Ilchul-ro, Seongsan-eup, Seogwipo-si, Jeju-do
  • Biaya Estimasi: Adult 5000 Won, Youth/Children 2500 Won
  • Jam Operasional: 07:30-19:00
  • Transportasi: kalau gue nyewa mobil atau kalian bisa naik bis no 111 dari Donggwangyang menuju Susan 1-ri dan lanjut naik taxi ke Seongsan Ilchulbong

Seongsan Ilchulbong atau Seongsan Sunrise Peak merupakan kawah gunung berapi yang dinobatkan sebagai salah satu pemandangan paling indah di Jeju. Menurut cerita tempat ini muncul secara tiba-tiba ke permukaan akibat erupsi volkanik (hydro-volcanic) 100.000 tahun yang lalu dan uniknya Seongsan ini tidak bisa menampung air seperti kawah kebanyakan lainnya. Lokasi ini merupakan UNESCO World Natural Heritage yang berarti situs wisata ini masuk ke dalam daftar warisan dunia yang harus dilindungi. Sesuai dengan namanya, tempat ini dikatakan sebagai spot yang bagus untuk menikmati matahari terbit. Hanya saja gue sampai di sini agak siang jadi kita tidak akan melihat sunrise.

Untuk mencapai puncak kawah ini kita harus mendaki bukit yang lumayan tinggi. Untungnya, semua tempat wisata di Jeju itu terawat sehingga mereka sudah membuat anak tangga (sekitar 500 anak tangga) yang kokoh dan bagus agar kita lebih leluasa berjalan. Meski begitu, gue sarankan kalian memakai sepatu yang nyaman untuk menaiki anak tangga ini. Kalau kalian pakai sepatu hak? Tambah gempor sih menurut gue hahaha. Kalau kata orang, untuk naik dan turun dari Seongsan ini membutuhkan waktu 1 jam, tapi gue malah menghabiskan waktu 2 jam (akibat tidak pernah olahraga jadinya ngos-ngosan). Tapi percayalah, meskipun kalian merasa ingin menyerah selama pendakian, kalian tidak boleh menyerah! Harus kudu banget wajib naik ke puncaknya! Kenikmatan dan pemandangannya itu bagus banget loh.

Bagusnya lagi dari tempat ini, mereka menyediakan tempat duduk untuk istirahat ketika kalian lelah memanjat. Note buat kalian, lebih baik kalian menyediakan banyak air minum dan makanan-makanan sebelum memanjat. Jadi kalian bisa berhenti di tengah perjalanan dan mengisi energi terlebih dahulu

Gue sendiri berhenti di perhentian 2 untuk makan gimbap, jeruk dan minum susu. Satu lagi nih pesan gue, kalau sepanjang perjalanan kalian menemukan lokasi yang bagus buat foto kalian harus foto. Soalnya jalan naik dan turun itu berbeda jadi kalian harus memaksakan diri kalian untuk foto meskipun kalian keringetan, kucel dan napasnya satu-satu kayak ikan keluar kolam hahahha. Di sepanjang jalan pun kalian akan disuguhkan dengan pemandangan kota Jeju dari kejauhan yang begitu indah. Sesampainya kalian di puncak, berjalanlah ke arah kiri dan kalian akan menemukan tanda “puncak” dari Seongsan Ilchulbong ini

Gue bisa bilang Jeju itu niat banget merawat tempat wisata mereka. Sampai di atas sendiri kalian bisa melihat kalau lokasinya bersih, terawat dan benar-benar ramah pengunjung. Kalian tidak akan menemukan satu sampah atau kerikil pun yang bisa bikin pengalaman wisata kalian tidak nyaman. Uniknya lagi, di lokasi yang setinggi ini ada wifi! Gue sendiri udah mencoba menggunakan wifinya (karena tidak percaya kalau di lokasi setinggi ini bisa kencang sinyalnya) dan benar-benar ajaib! Wifi ini bukan pajangan loh teman-teman.

Bawalah kacamata hitam kalian karena di puncak sini terang banget! Bahkan foto aja sampai susah. Selain itu uniknya di atas sini malah tidak banyak angin (padahal sepanjang perjalanan mendaki anginnya kencang sekali) Karena kita datang saat winter, kawah besar berdiameter 600 meter ini terdiri dari padang yang mengering kecokelatan. Kawah ini tampak seperti mahkota raksasa, di sisi tenggara dan utara terdapat tebing-tebing, sisi barat lautnya terhubung ke desa Seongsan. Kalau kalian datang di musim semi kalian bakal melihat kawah gunung ini hijau dan dikelilingi bunga canola yang berwarna kuning cerah.  

Setelah mendaki Seongsan Ilchulbong, di bawah dekat pantai pun kalian bisa melihat Live Haenyeo Performance di jam tertentu seperti 13:30 dan 15:00. Biasanya sebelum pertunjukkan dimulai akan ada pemberitahuan dengan pengeras suara dan nyanyian khas para haenyeo yang biasa mereka nyanyikan saat berenang ke lautan. Kalau model lagunya menurut gue lebih ke arah Traditional Korean Folk yang mendayu dan kuno. Haenyeo adalah wanita penyelam yang berasal dari pesisir Korea khususnya di pulau Jeju. Bahkan ada yang bilang Haenyeo itu putri duyungnya Jeju (tsahhh ahhaha) Konon, kegiatan penyelam ini masih didominasi kaum pria sampai abad ke-19 tapi menyelam ini tidak menguntungkan kaum pria karena mereka menanggung pajak sedangkan wanita tidak. Karena itu kegiatan penyelaman ini diambil oleh wanita dan katanya wanita lebih dapat bertahan dan menjaga suhu tubuh di dalam lautan (karena lemak tubuh wanita banyak HAHAHA ini bener fakta dari wikipedia loh).

Kalau mendengar dari supir kita, dia bilang wanita era modern itu ogah menyelam, mereka lebih memilih kerja di perusahaan sehingga saat ini Haenyeo itu rata-rata wanita berusia 50-80 tahun (kasihan banget ya). Para Haenyeo itu mampu menyelam ke kedalaman sampai 20 meter dan menahan napas lebih dari 2 menit mengumpulkan seperti abalon, gurita, ikan-ikan kecil atau beberapa hewan laut yang dipotong hidup-hidup (nakjji). Bahkan saat winter seperti saat ini pun mereka masih menyelam (kasihan banget ya pt.2). Saat ini Haenyeo menjadi UNESCO Intangible Cultural ke-19 sejak 2016. Kalau misalkan zaman dahulu pelampung untuk menaruh hasil tangkapan mereka berwarna putih, saat ini telah diganti menjadi warna oranye terang. Hal ini disebabkan agar mudah mengetahui posisi haenyeo.

Sebenarnya kalian tidak harus sih nonton di sini karena di setiap pantai biasanya banyak banget haenyeo yang bisa kalian temui. Dari sini pun kalian bisa ke Udo Island yang memakan waktu setengah hari untuk menjelajahi satu pulau. Kalau kata supir kami, di Udo Island itu jauh lebih tenang daripada Jeju, padahal gue sendiri sudah merasa Jeju itu sangat tenang. Karena waktunya tidak memungkinkan mungkin next, kita akan menjelajahi Udo Island. HEHEHE, doain aja bisa balik lagi.

Seongeup Folk Village


  • Alamat: 19, Seongeupjeonguihyeon-ro, Pyoseon-myeon, Seogwipo-si, Jeju-do
  • Biaya Estimasi: Free
  • Jam Operasional: N/A
  • Transportasi: kalau gue nyewa mobil atau kalian bisa naik bis no 121 dari Donggwangyang menuju Seongeup ri-1 Community Service Center dan jalan kaki sekitar 5 menit (500 meter)

Rasanya tidak afdol jika datang ke Korea tanpa mengetahui sebuah sejarah dan budaya dari negara tersebut. Kali ini, gue dibawa ke area Jeongui Village dari abad ke 18. Sekelibat adegan drama kerajaan Korea mulai bermunculan ketika gue datang ke tempat ini. Ternyata, di Jeju sendiri masih banyak yang menggunakan desain rumah kuno ini. Perbedaannya hanya di jendela mereka. Kalau misalkan rumah-rumah tersebut berjendela kayu dan kaca itu artinya ada penghuni di rumah tersebut. Rumah-rumah di Jeju mayoritas tidak menggunakan pagar karena masih cukup aman dan hanya dikelilingi batu-batu karang hitam yang disusun sedemikian rupa untuk membedakan rumah satu kepala keluarga dengan yang lainnya.

Sebenarnya gue dan mama gue bukan mau datang ke kawasan (Seongeup Folk Village) ini. Yang sebenarnya gue pengin datangin itu yang Jeju Folk Village yang digambarkan pada serial Dae jang geum karena menurut info di sana lebih bagus, besar dan informatif. Tapi sopir kita malah mengajak kita ke sini (mungkin karena searah dan di sini free) dan berkata kalau di Jeju Folk Village itu tempatnya 11 12 sama di sini.

Kehidupan zaman lampau di sini digambarkan masih dalam masa penjajahan. Tidak ada listrik dan mereka tidak membangun “dapur” seperti di rumah-rumah biasanya. Atap rumah bagian depan pun diganjal menggunakan kayu supaya ketika hujan atau berangin mereka dapat menutup bagian rumah. Setiap rumah dibangun menggunakan batu karang hitam khas jeju (berasal dari gunung berapi meletus) yang kokoh beserta tanah liat. Sedangkan atap mereka sendiri terbuat dari jerami yang diikat dengan simpul. Dari cerita supir gue, rumah-rumah zaman kuno ini ketika musim panas akan terasa adem akan tetapi ketika musim dingin rumah akan terasa hangat. Hal ini terbukti benar karena gue sendiri mengalaminya ketika memasuki rumah-rumah.

Lucunya masyarakat dahulu memiliki WC di luar rumah (tapi masih di dalam komplek rumah per kepala keluarga) dan mereka akan membuat peternakan babi di sisi bawahnya. Sehingga kalau kalian BAB, babi-babi akan memakan kotoran kalian. Setelah mendengarkan ini, gue jadi bersyukur maka Black Pork di era sekarang, bukan zaman dahulu hahaha. Dan ditambah lagi WC ini pas untuk satu orang dan tidak memiliki pintu. Kalau gue membayangkan, seram juga ya misalkan gue lagi BAB terus ada sanak saudara yang lewat. Rasanya malu banget. Menurut gue mendatangi daerah ini menambah banyak pengetahuan. Selain melihat rumah-rumah kuno, kalian akan melihat juga gerbang perbatasan dengan kerajaan seperti di drama-drama Korea dan merasakan vibe serupa seperti di dalam drama-drama kerajaan.

Kalau misalkan kalian ke sini dan memiliki banyak waktu, kalian bisa juga menyewa hanbok untuk foto ala-ala zaman dahulu. Tapi jangan lupa bawa payung atau kacamata hitam karena lokasi ini sangat terik bahkan anginnya pun terbilang sangat kencang seperti Jusangjeolli Cliff.

Soesokkak Estuary


Kalau kalian mempunyai waktu yang lebih, kalian boleh banget mampir ke sini sambil membawa buku kesukaan kalian. Soesokkak memberikan suasana paling menenangkan dari antara semua tempat wisata yang sudah gue datangi. Pemandangan indah (banget) seperti di dalam desa membuat kalian ingin duduk berlama-lama memandangi pemandangan. Soesokkak pada zaman dahulu diberi nama “Soedun” yang artinya sapi yang sedang berbaring (meski gue tidak paham apa hubungan lokasi ini dengan sapi). Tempat ini merupakan jurang yang terbuat dari lava dan menjadi pertemuan air sungai dan air laut (bibir dari aliran Hyodoncheon)

  • Alamat: 128, Soesokkak-ro, Seogwipo-si, Jeju-do
  • Biaya Estimasi: Free (kalau main kayak dll beda lagi harganya)
  • Jam Operasional: N/A (sepertinya 24 jam)
  • Transportasi: kalau gue nyewa mobil atau kalian bisa naik bis no 181 dari Jeju City Hall menuju Harye-ri Enterance dan naik taxi 8 menit (7,2 km)

Menurut gue, Soesokkak merupakan pilihan yang sangat tepat untuk wisata bersama keluarga. Baik anak-anak maupun orang tua dijamin suka dengan suasana di sini. Air di sini sangat biru dan tenang, bahkan banyak sekali orang yang bermain kayak, mendayung sampan atau menaiki perahu jadul yang digerakkan dengan cara ditarik. Untuk anak-anak sendiri di sini terdapat beberapa ayunan atau kalian bisa bermain di pantai. Hanya saja pasirnya hitam dan cenderung berbatu.

Gue sempat menonton salah satu vlog Youtuber di Korea, dan begitu gue sampai gue langsung ngakak sendiri keinget bagian mereka main kayak berdua. Kalau kalian mau nonton juga, gue attach video youtube-nya di bawah ini ya.

Jeongbang Waterfall


  • Alamat: 37 Chilsimni-ro214beon-gil, Donghong-dong, Seogwipo-si, Jeju-do, Korea Selatan
  • Biaya Estimasi: Adult 2000 Won, Children/Youth 1000 Won
  • Jam Operasional: 08:00-18:00
  • Transportasi: kalau gue nyewa mobil atau kalian bisa naik bis no 181 dari Jeju City Hall menuju Biseokgeori

Jeongbang Waterfall dengan ketinggian 23 meter menjadi satu dari tiga air terjun yang wajib dikunjungi di sini. Menurut legenda, terdapat naga suci yang tinggal di bawah permukaan air terjun ini sehingga dikatakan bahwa air terjun Jeongbang mampu mengobati sakit dan membawa hujan ketika kemarau melanda.

Yang gue suka di sini, dari jauh pun kalian bisa memfoto Jeongbang Waterfall. Kalau kalian pengin explore foto lebih bagus kalian boleh banget mendekat ke air terjun, tapi saran gue pakailah sepatu olahraga (pokoknya jangan sepatu yang licin, sandal apalagi hak tinggi) karena jalanannya berbatu dan agak licin meski tidak ada genangan air yang terdapat di atas batu. Tapi sebagai info, kalian tetap tidak boleh ya berenang di daerah ini. Kalau main ciprat-ciprat air dekat sini masih boleh lah.

Jeongbang Waterfall menjadi satu-satunya air terjun di Asia yang langsung mengalir ke laut. Jadi, kalau kalian ke sini, kalian bisa menikmati air terjun sekaligus duduk santai di bebatuan menikmati senja. Kalian juga bisa menemukan ahjumma yang berjualan nakjji di sini. Akhirnya, gue mencoba nakjji di sini:

Di sini ada nakjji sea cucumber, abalone dan sea snail. Tekstur rasanya sendiri menurut gue unik dan lumayan enak. Begitu suapan pertama, percayalah kalian akan menyapa rasa asin beserta sedikit lendir di lidah kalian. Mungkin karena mereka benar-benar fresh dan memang mereka benar-benar masih hidup ketika dipotong. By the way, anehnya ketika dipotong ketiganya ini tidak mengeluarkan darah ya.

Awalnya gue pikir nakjji ini akan bergerak di mulut kita seperti sanakjji (kalian boleh menonton di youtube reaksi orang makan sanakjji) tapi ternyata ketiga makanan ini memiliki rasa yang mirip seperti makan otot yang mengencang (if you know what I mean) atau tulang ayam yang lunak. Bisa dibilang tidak ada satu sisi pun yang lunak atau empuk seperti daging. Tapi, kalau abalone dan sea snail lebih tidak keras dibandingkan sea cucumber. Tapi sepertinya gue lebih suka sea cucumber soalnya gue jadi sibuk mengunyah dengan semangat, daripada membayangkan kalau mereka itu mentah.

Sister’s Noodle (Non Halal)


  • Alamat: 67 Samseong-ro, Ildoi-dong, Jeju-si, Jeju-do, Korea Selatan
  • Biaya Estimasi: 8000 won per mangkok
  • Jam Operasional: 09:00-21:00
  • Transportasi: kalau dari Jeju Staz Robero bisa jalan kaki dan ikutin Naver Maps (cuma kalau winter agak susah ya karena anginnya kencang) kalau mau nyaman naik taxi. Kebetulan gue minta diturunin supir gue di sini

Never judge a book from it’s cover merupakan peribahasa yang tepat untuk resto ini. Awalnya gue pikir rasanya bakal biasa saja, karena kalau dari foto paling juga cuma mie dengan kuah kaldu apalagi gue sendiri bukan penggemar mie. Ternyata, mampir ke resto ini merupakan pilihan tepat. Begitu gue sampai, nomer antriannya saja sudah panjang dan emang menurut orang kalau kalian mau makan di sini harus siap mengantri panjang. Bahkan resto ini tidak pernah sepi dari gue datang sampai pulang meski orang Korea itu makannya super cepat dan begitu mereka habis makan langsung cabut.

Begitu masuk kalian akan melihat satu mesin di sebelah kanan kalian. Kalau menurut orang, gue itu harus masukin nomer ponsel terus pesanan gue di sana terus nanti mereka akan panggil. Masalahnya, gue dan mama gue tidak membeli kartu SIM di sana dan kita berdua cukup kebingungan. Dengan nekat, mama gue langsung masuk ke dalam nyamperin pelayannya dan pesan makanan. Mungkin kalian juga bisa menggunakan metode serupa seperti gue hahahha.

Gue memesan gogi guksu dan bibim guksu. Kalau bibim guksu ini merupakan rekomendasi dari driver kita, katanya dia paling suka makan ini dan setiap kali makan di Sister’s Noodle pasti pesan ini. Begitu datang, kedua makanan ini tampak begitu menggoda. Kalau gogi guksi disajikan dengan panas akan tetapi mie dari bibim guksu ini disajikan dingin (cold noodle). Sekilas, tekstur kedua mie ini sama; seperti rasa spagetti.

Kalau kalian lihat di atas, bibim guksu itu terlihat sangat merah. Asumsi gue awalnya juga rasanya bakal pedas tapi ternyata rasanya agak mirip dengan saus toppoki yang biasa kita makan (bahkan cenderung manis). Dengan toping potongan daging yang tipis, rumput laut (disediakan di meja kalian jadi bebas nambah) dan kuah bening yang disajikan menurut gue bibim guksu ini enak. Tapi, akan lebih lezat lagi rasanya kalau kalian makan bibim guksu ini ketika musim panas karena pas kemarin gue dan mama gue makan ini kita berdua malah tambah kedinginan.

Citarasa yang berbeda disediakan dalam semangkuk gogi guksu. Meski disajikan dengan sederhana dengan potongan daging dan rumput laut, kalian bakal benar-benar ketagihan dengan makanan ini. Gue malah suka banget sama menu makanan ini! Enak banget sumpahhh! Kuahnya yang gurih khas kaldu membuat gue tidak bisa berhenti menyeruputnya. Menurut gue komposisi mie, daging dan rumput laut ini menyatu hingga mampu memecahkan fatamorgana. Top banget!

Kalau buat side dishnya kalian akan mendapatkan tiga macam side dish yaitu kimchi lobak, kimchi sawi dan bawang putih. Kalau gue lihat orang-orang sana doyan banget sama bawang putihnya tapi karena gue anti banget sama bawang jadi gue skip mencicipi side dish ini. Untuk kimchi lobak dan sawinya sudah tidak diragukan lagi enak banget. Kalau gue lebih suka kimchi sawinya dibandingkan kimchi lobak karena kimchi lobak terbaik ada di Woojin. Tapi sayangnya pelayanan untuk side dish ini kurang oke menurut gue. Gue udah minta nambah side dishnya sampai 3x manggil baru diambilin dan setelah itu panggilan gue buat nambah udah diabaikan. Sayang banget sih, padahal kimchi mereka enak.


Akhir kata, gue suka sekali sama perjalanan hari ketiga. Semua tempat benar-benar buat gue merasa 1000% betah di Jeju! Gak pengin pulang plisss! Tapi, namanya juga realita ya, semoga aja bisa balik lagi ke sana. Gue suka banget mengexplore tempat wisata alam dan masih banyak tempat wisata lain yang gue skip karena gue kurang tertarik.

Buat kalian yang mau tahu caranya dari tempat A ke tempat B, kalian bisa pakai Naver Maps (install di Playstore) atau bisa mengunjungi https://www.rome2rio.com/map/Jeju-City/ menurut gue kedua aplikasi atau web ini sangat membantu. Gue menyewa mobil karena mengejar waktu (flashpacker hehe) dan takut dengan angin winter yang dingin. Tapi kalau kalian mau coba, boleh banget loh. Menurut gue sangat asyik kalau kalian bisa mengexplore tempat wisata seperti orang lokal.

Buat selanjutnya, kita bakal membahas hari terakhir sekaligus gimbap yang katanya paling enak di Jeju! Stay Tuned ya…

Ciao~

Leave a comment