Bisakah kalian percaya orang mageran yang jarang kemana-mana pas jeda kampus akhirnya main bareng sampai keluar negeri? Di cerita ini kalian akan bertemu dengan empat orang mageran yang biasanya suka merencanakan perjalanan, terus berakhir dengan omong doang dan bertengger di kosan setiap jeda mata kuliah. Bahkan kita jalan berempat aja bisa dihitung jari karena kita cuma keluar kalau ada special occasion seperti ngerjain tugas atau ulang tahun. Sebelum gue mulai lebih lanjut, perkenalkan dahulu kepada 3 teman gue yang telah mengisi 3-3,5 tahun perkuliahan gue.
Pertama, mari berkenalan dengan Joan, anak ARMY yang sering kali punya dunia sendiri dengan mas-mas BTSnya dan yang paling polos (meskipun dia umurnya tidak muda lagi). Kedua, ada Novani, anak yang paling mager di antara kita berempat dan sepertinya paling normal, Novani inilah sang empunya kos yang sering kita bajak hahaha mulai dari tempat ngerjain tugas, tempat bobo siang, tempat naruh printan skripsi sampai jadi basecamp kita. Ketiga, ada Bella, teman paling tua yang masih setengah normal dan bucin setengah mati sama Lee Jong Suk dan Lee Seung Gi (bahkan di bandara dia melihat standee Lee Seung Gi udah girang sendiri loncat-loncat). Bisa dibilang, di antara kita berempat, Nova lah yang paling alim dan normal (karena dia tidak tergoda perihal oppa ganteng hahaha). Gue udah berteman dengan Joan dari pra-kuliah (jadi kita ada sejenis matrikulasi sebelum masuk kuliah), sedangkan berteman dengan Nova di semester 1 dimana kita satu kelompok bareng. Nah, anggota import kita, yaitu Bella baru bergabung ketika perwalian semester 2.
Dan kali ini, kita berempat akan pergi ke Kuala Lumpur! Di perjalanan kali ini gue akan menjadi tour guide ala-ala (padahal biasanya mama gue yang jadi tour guide dan gue hanya terima beres) dibantu dengan mereka yang menyusun itinerarynya. Bahkan, sampai gue menulis ini gue masih gak menyangka kita bakal “jadi” pergi. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka selebrasi lulus sidang sekaligus “menikmati hidup” sebelum akhirnya benar-benar terjun ke dalam dunia kerja dan bergelut dengan kesibukan masing-masing.

Kuala Lumpur bisa menjadi awal travelling kalian loh karena negara ini mirip sekali dengan Indonesia. Bahasa yang digunakan juga melayu, jadi kita tidak perlu bersusah payah berbicara dalam bahasa inggris atau mandarin. Kemana-mana pun kalian bisa naik MRT (download maps MRT) atau nanya ke orang kounternya. Kalau kalian berempat kayak kita? Sisa naik grab dan ongkosnya dibagi empat. Bedanya, menurut gue Kuala Lumpur sudah tergolong agak canggih bahkan lebih “bebas” ketimbang di Indonesia. Kalau kalian datang ke Kuala Lumpur saat bulan puasa pun, kalian nggak perlu khawatir gak ada yang jualan makanan. Bahkan, banyak banget orang-orang muslim yang masih berjualan seperti biasanya. Cuaca di Kuala Lumpur pun agak mirip dengan Jakarta, sedikit pengap dan panas. Karena itu, menurut gue Kuala Lumpur dapat menjadi opsi bagus untuk kalian yang baru terjun dunia travelling atau jalan-jalan singkat bareng teman kalian.
Jadi, kita berempat akan berangkat melalui bandara Bandung pukul 8.30 dan janjian untuk kumpul jam 6.30. Nah di sini gue, Nova dan Bella udah kumpul duluan dan disusul Joan yang datang belakangan. Begitu Joan muncul kita bertiga langsung tercengang dan panik sendiri. Jadi teman-teman, kita itu beli tiket pesawat tanpa bagasi saat penerbangan pergi, secara otomatis kita cuma dapat jatah bagasi kabin 7 kg dengan kapasitas 20’. Dan Joan, muncul dengan membawa koper besar yang biasa dimasukin bagasi. Mengingat ini kembali, gue jadi ngakak. Membayangkan mata Nova yang nyaris melompat keluar, ditambah muka frustasi Bella dan Joan yang datang sambil dadah-dadah ke kita dengan polosnya. Waktu itu kita udah bilang ke Joan peraturan-peraturan bagasi kabin kayak gak boleh lewat dari 7kg, cairan gak boleh lewat dari 100ml per barang, dan lainnya. Kita gak kepikiran kalau ukuran koper belum kita bahas ke Joan karena asumsi kita semua udah dikasih tahu wkkwk jujur aja, ini salah satu kejadian terlucu di perjalanan kita. Gue bakal menjadikan ini bagian dari memori terindah gue di KL. Kata Joan, koper ukuran kabin punya dia rusak (dan setelahnya dia kasih tahu kalau gemboknya doang yang rusak coba hahaha). Singkat cerita, Joan akhirnya mengeluarkan 500 ribu untuk membeli bagasi di tempat, dan kita bertiga yang nyesek.
Waktu itu, virus Corona belum masuk ke Indonesia dan belum se-booming sekarang ini. Kasus di Kuala Lumpur saat itu masih 8 orang dan sebenarnya kita agak was-was untuk pergi. Karena itu kita berempat kemana-mana pakai masker. Sesampainya di Kuala Lumpur, kita langsung dihadapi dengan imigrasi yang panjangnya naujubilah. Kita bahkan mengantri sampai 2-3 jam dan itu di luar semua rencana kita. Bisa dibilang itinerary kita di hari itu udah berantakan banget. Padahal perkiraan kita itu imigrasi bakal agak sepi karena banyak virus gini jadi orang banyak yang takut jalan-jalan. Ternyata, semakin banyak turis-turis China yang datang segerombolan sama keluarganya (meski kayaknya mereka juga bawa surat keterangan sehat sih). Bisa dibilang itinerary kita di hari itu berantakan total.
Rencana awalnya, kita berempat itu jam 14.30 jam sana udah sampai di apartemen yang kita sewa terus langsung mandi dan pergi ke KLCC dan Suria KLCC. Setelah itu kita ke Bukit Bintang baru malamnya pergi ke jalan Alor. Tapi, jam 3.30 sore kita baru keluar imigrasi terus langsung nyari makan di foodcourt bandara. Kalau kalian sampai ke KLIA2 pastiin buat naik ke lantai 3M terus cari foodcourt dan begitu masuk kalian bisa keliatan yang jualan nasi kandar gitu. Jadi dia tipenya kayak nasi padang ala warteg. Di sini ada telur cumi dan telur ikan yang jarang ditemukan, dan percayalah ini enaknya kebangetan. Gak kuat enak banget ih pengen bungkus! Tapi, kalau menurut teman-teman gue yang makan nasi pakai ayam gorengnya bilang kalau nasi kandarnya cuma lumayan enak. Kembali lagi ke selera kalian ya.
Setelah makan, kita berempat harus cari kartu SIM. Tadinya, Nova udah nawarin kita buat beli online. Tapi gue malah bilang harganya bisa lebih murah di sana. Ternyata gue salah, kartu SIM di KL mahal juga loh hehehe jadi lebih baik kalian beli lewat online dulu. Provider yang biasa banyak dipakai itu Digi, Celcom dan Tune Talk. Nah, kebetulan kita beli yang Tune Talk yang harganya 100 RM (dapat 30 gb) dan sayang sekali lebih baik kalian beli lewat Klook dulu karena bedanya sekitar 20-30 ribuan.
Jadi dari bandara buat ke kota, kita perlu naik bus. Kalian harus turun ke lantai 1 (lihat di petunjuk bandara aja) dan beli tiket. Kalian sisa bilang ke mbak kounternya kalau tujuan kalian itu KL Sentral, setelah itu ngantri di platform yang dikasih tahu mbaknya buat nunggu busnya datang. Perjalanan ini membutuhkan sekiranya 45-60 menit jadi kalian bisa bobo cantik sekejap dulu. Nah sesampainya di KL Sentral, kalian bakal sampai di basement dan harus naik lift/eskalator ke atas. Di KL Sental, bisa dibilang ini pusat semua MRT, LRT, KTM dan lainnya. Yang perlu kalian lakukan hanya cari tahu tujuan kalian itu dekat ke jalur yang warnanya apa, terus beli tiketnya dan ciao, simple banget.
Setelah membeli tiket di loket, kalian bakal dikasih koin buat ditap waktu mau masuk ke jalur kereta dan koin itu gak boleh sampai hilang karena sesampainya di tujuan, kalian harus mengembalikan koin itu dengan cara dimasukkan ke mesinnya. Kalau kalian menghilangkan koin itu? Kalian gak bisa keluar atau bahkan harus beli tiket lagi.
REGALIA SUITES
Karena Regalia Suites ini jadi tempat kami menginap selama trip ini dan merupakan kali pertama gue menginap di apartemen ketika jalan-jalan maka gue ingin membahas apartemen ini lebih menyeluruh
- Informasi
Informasi lebih lanjut: https://www.upperview-regalia.com/
Cara Pergi: naik KTM dari KL Sentral ke Putra (2 RM)
Informasi Pemesanan: https://www.airbnb.com/rooms/33547151?source_impression_id=p3_1588252693_4Zv%2BJ1qIpmrAPGhH&guests=1&adults=1
Check In:

Lokasi check in ada di lobby dan agak susah dicari karena dia cuma satu meja di sudut gitu dan buat orang yang baru pertama kali ke sana menurut gue bakal kurang sadar dengan lokasi itu. Tapi buat kalian yang cari counter check in, patokannya itu mesin cuci koin. Kalau kalian udah liat mesin cuci itu, berarti kalian udah menemukan counter check in-nya soalnya berada tepat di depannya.
- Fasilitas

Bisa dibilang, Regalia seperti apartemen pada umumnya, bahkan lebih baik lagi. Mulai dari keamanannya, gue merasa kalau keamanan di sini cukup aman. Begitu mau masuk tower kita harus tap security card dulu dan di lift pun juga pakai kartu dan di setiap tower apartemen, ada satpam yang berjaga. Nah, untuk kalian yang sudah check in biasanya akan disuruh nulis data diri seperti nama dan nomer paspor kalian. Selanjutnya di bagian lobby, di sini ada dua mini market, 3M dan Ola Market. Nah, menurut gue daripada kalian ke supermarket, kalian tinggal ke mini market di sini saja karena harganya beda tipis (dan lucunya, ada beberapa yang susah gue cari kemana-mana akhirnya ditemukan di sini).
Buat kalian yang pengin menghemat biaya air minum, di lobby ini ada mesin refill air putih berbayar. Jadi kita hanya perlu masukin koin dan menyediakan tempat minumnya (lebih baik bawa botol ukuran besar). Dan terakhir sekaligus highlight yang paling gue suka dari Regalia adalah kolam renangnya. Bayangkan, tiap tower ada masing-masing kolam dengan konsep berbeda. Meski nggak besar, menurut gue ini sangat memuaskan. Tapi kolam renang yang membuat kita pengin nginep di sini adalah infinity pool yang ada di lantai 38. Kalian bisa berenang dengan latar gedung tinggi Kuala Lumpur dimana salah satunya ada Twin Tower dan KL Tower. Mantep banget!
- Ruangan
Secara keseluruhan gue cukup suka konsepnya. Meski tipe studio, pemiliknya cukup pintar untuk mengatur ruangan. Ada dapur, meja makan, rak sepatu, lemari pakaian, beserta kasur dengan ruang santai mini. Di bagian dapur, peralatan masak cukup memadai (meski tidak selengkap yang gue bayangkan) dan terdapat microwave yang bisa kalian gunakan untuk memanaskan makanan.
Nah untuk tempat tidur, sebenarnya ini gimana kalian atur aja. Pemilik menyediakan satu tempat tidur ukuran double, satu tempat tidur single dan sofa empuk yang bisa kalian gunakan juga. Pemiliknya juga menyediakan pengganti seprai dan beberapa helai selimut tipis yang bisa kalian gunakan. Di bagian kamar mandi juga cukup bersih, bahkan terdapat mesin cuci jika kalian lama berada di sini dan mereka menyediakan sabun gratis (hahaha). Kalau dari nilai 10, gue akan memberikan nilai 8.75 untuk ruangan ini.
Oh ya, ada bagian yang gue lupakan yaitu kalau sewa apartemen di pemilik ini ada kena charge room cleaning sebesar 60 RM untuk 4 hari penginapan kita dan ternyata, room cleaning ini cuma dilakukan waktu kita selesai menginap. Awalnya kita kira bakal tiap hari dibersihin sih, jadi agak sedikit mengganggu soal sampah-sampah yang menumpuk untungnya, di seberang kamar kita itu bak sampah dekat tangga darurat.
- Akses
Mama gue biasa paling suka mencari tempat yang aksesnya enak kemana-mana dan akhirnya, gue benar-benar setuju dengan perkataan mama gue. Sebenarnya, kita ini karena berempat kemana-mana pakai grab. Efisien gak perlu jalan buat ke MRT tapi juga harganya sama aja dan kita hanya perlu turun ke lobby dan duduk manis sepanjang perjalanan. Tapi, kalau kalian mau menggunakan kendaraan umum, menurut gue di Regalia enak banget. Kalian hanya perlu jalan paling 5 menit buat ke KTM Putra (200 meter dari apartemen) dan itu bisa ke KL Sentral, jadi kalian bisa tukar kereta di sana. Selain itu juga, kalau kalian mau ke Batu Cave juga lebih dekat dengan estimasi perjalanan 20-30 menit (kalau dari KL sentral bisa 45-50 menit). Nah, kalau kalian mau naik yang lain bisa juga LRT PWTC (500 meter) atau Monorail Chow Kit (1 km), berhubung gue gak memakai kedua jalur kereta ini, jadi gue gak bisa membahas lebih lanjut. Oh ya satu lagi, dekat sini pun ada sebuah mall bernama Sunway Putra yang cukup lengkap. Awalnya gue pikir mall ini mall jadul yang kayaknya gak ada apa-apa. Eh, ternyata asumsi gue salah besar! Ada bioskop, supermarket, daiso bahkan banyak sekali gerai makanan buat kalian cicipi.
Nah, kembali lagi kepada cerita kita, karena udah kesorean dan perjalanan kita hari ini udah nggak sesuai itinerary, makanya kita langsung ke Pavillon buat mengunjungi salah satu café yang sebelumnya kita temukan di Instagram. Jadi, gue Bella dan Nova berencana untuk memberikan surprise ala ala untuk teman kita yang bulan Desember lalu berulang tahun, Joan. Meski surprisenya berakhir tidak jelas dan aneh banget, tapi ada satu memori dimana kita merayakan ulangtahun teman kita ini secara fancy di luar negeri. EHEM, buat Joan Bella dan Nova, kalian jangan lupa suatu hari nanti rayain ultah gue ala fancy gini ya hahahha.
Jadi, sebenarnya kalau kalian jalan-jalan ke daerah Bukit Bintang, kalian akan menemukan banyak sekali mall yang berdekatan, bahkan beberapa mall memberikan jalan tembus. Vibesnya mirip sekali dengan Kelapa Gading Mall yang ada di Jakarta, hanya saja… jelas mall di Kuala Lumpur lebih besar dan bahkan, per mallnya itu ada sudut south north atau apapun itu. Jadi bisa dibilang, menjelajah di Bukit Bintang membuat kalian pulang-pulang memasang koyo. Dan daripada kalian bingung, kalian harus cari informasi terlebih dahulu di website mall dimana letak tujuan kalian. Nah, untuk café ini letaknya di dalam mall Pavillion KL lantai 6 (Centre Court) dan untuk sampai ke Pavillion, kita berempat menggunakan Grab seharga 12 RM dari Regalia Suites. Kalau misalkan kalian cuma berdua, gue sarankan banyak naik kereta, kalau kalian berempat kayak kita? Mendingan naik Grab kemana-mana. Contohnya ini aja, 12 RM dibagi 4 jadinya seorang cuma 3 RM (sekitar 10.500 per orang), harganya kurang lebih kalau naik kereta tapi keuntungannya kita diantar sampai di depan pintunya hahaha.
MIRU CAFE

Konsep minimalis serba putih ini cocok buat kalian yang pengin nongkrong cantik dan menikmati sepotong kue untuk memperbaiki mood. Kali ini kita mencicipi salah satu varian kue yaitu: Brown Sugar Fresh Milk Mille Crepe, rasanya? Enak! Manisnya pas untuk sejenis kue boba ini. Bobanya juga kenyal dan lembut, tapi kekurangannya adalah… kue ini tergolong mahal menurut gue. Satu slice kue dihargai 19 RM (kalau dalam rupiah 66.500). Gue gak tahu buat kalian yang pencinta kue merasa ini mahal atau tidak. Tapi karena kita masih anak kuliah yang tidak berpenghasilan jadi menurut kita ini mahal hahaha (ketawan bokeknya). Kita berempat sampai makannya seujung sendok semua saking gak pengin kuenya cepat habis hahaha. Untuk sekali coba? Mungkin kalian bisa coba kalau bawa budget lebih. Tapi sebenarnya, kalau dipikir-pikir harganya kurang worth it (meski emang rasanya enak)
Setelah kita mengunjungi Miru Café, kita akhirnya muter ke Daiso yang selalu ramai. Gue masih gak paham kenapa di Indonesia Daiso itu gak laku ya? Di luar negeri entah kenapa Diaso itu selalu ramai dan menurut gue tuh barangnya bagus-bagus. Gue sedih Daiso gak laku di sini. Nah, untuk Daiso sendiri gue kira yang gede itu di Pavillion aja. Eh ternyata, di Sunway Putra ada Daiso yang lebih sepi dan lebih lengkap HUHU. Bertempat di lantai 3, lantai tempat Daiso ini berada memberikan vibes ala jejepangan. Banyak resto atau aneka cemilan Jepang yang dijual di sini. Tapi, gue nggak akan mereview camilan itu, yang gue akan review adalah Eureka! Popcorn hits yang jadi saingan Garret (Singapura).
EUREKA POPCORN
Saran gue setelah membeli Eureka di Pavillion adalah JANGAN BELI EUREKA DI SINI. Pertama, pelayanannya buruk banget karena mereka bakal maksa kalian beli ukuran besar meski kalian maunya yang ukuran sedang. Kedua, mereka pelit banget ngasih gratisan padahal kita beli banyak banget (padahal mereka ada standar khusus pas kasih gratisan). Jadi awalnya kita berempat mikir mau beli pas di Genting, karena kata mama gue di Genting ngasih gratisannya banyak. Tapi, begitu ketemu di Pavillion kita mikir udah sekalian aja beli biar nanti di Genting nggak bawa banyak barang. Eh, tahunya… kita berempat malah beli satu tas gede.
Di semua cabang harga Eureka sama yang bikin beda cuma jumlah gratisan yang kalian dapatkan. Saran gue, kalian boleh beli Eureka waktu ke Central Market. Orang yang jaga toko di sana baik dan ramah banget. Padahal kita juga belinya nggak banyak tapi dikasih gratisannya banyak (bahkan gratisannya terasa lebih worth it ketimbang yang kita terima pas beli di Pavillion)
Hal yang paling lucu ketika kita berempat di Eureka adalah kita kebingungan mau beli rasa apa karena saking banyaknya varian rasa yang mereka punya. Mulai dari asin hingga manis, kalian bisa mendapatkan apapun yang kalian inginkan. Bahkan, saking banyaknya kita mencoba tester, kita sampai gak tahu apa yang enak. Kalau varian rasa yang menurut kita enak:
- Joan: Butterscotch, Green Tea Choc (matcha), butter caramel popcorn
- Nova: Butterscotch, Seasalt, Corn
- Bella: Butterscotch, Sour n Cream
- Fiony: Butterscotch, Cocoa Malt, Green Tea Choc (matcha), Seaweed
YEP, kita berempat emang sepakat banget butterscotch enak parah. Kita sampai beli 1 bungkus patungan buat makan berempat selama di KL (meski ujung-ujungnya kita jadi ngeberatin tas karena dibawa doang dan ujungnya dimakan di rumah juga hahaha).
Setelah kita beli Eureka, rencananya itu kita mau ke Jalan Alor buat makan malam sekaligus beli sarapan buat besok. Oh ya, for your information, ternyata bukan di Indonesia doang yang susah nyari masker. Di luar negeri pun sama susahnya. Joan udah masuk ke dalam semua Guardian/Watson dan bahkan semua minimarket yang kita temui buat beli masker tapi masih aja gak ketemu, bahkan di depan toko orang-orang udah sampai pasang tulisan semacam “MASKER KOSONG”. Nah, begitu kita keluar dari mall, di sepanjang jalan itu masih ramai. Mungkin karena waktu itu corona masih belum seramai sekarang. Masih belum ada social distancing, belum ada juga PSBB dimana-mana. Hanya saja 70% orang di jalanan sudah memakai masker. Di sepanjang jalan Bukit Bintang banyak banget orang yang jual masker (yang semacam Sensi) per satuan, tapi kata Joan mereka mencurigakan dan maskernya keliatan kayak bekas, jadi dia nggak beli.
Nah, tapi poinnya bukan itu hohoho. Kebetulan, kita berempat melihat dua orang Chinese (perempuan) yang jalan sambil minum Yomie’s terus gue bilang ke mereka mau gak nyari sekarang, biar besok gak nyari Yomie’s lagi. Nah, sebenarnya Yomie’s ini udah masuk itinerary kita, dan saking penginnya kita nyobain Yomie’s kita sampai berulang kali ngatur itinerary hahaha. Akhirnya, kita nanya dimana lokasi Yomie’s ke orang itu. Gue dengan sok jago ngomong bahasa Mandarin nanya ke mereka. Gue nggak ngerti, kenapa waktu itu gue masih kepikiran ngomong bahasa Mandarin sama mereka, sekarang aja gue lupa sebenarnya gue tuh ngomong apa pas nanya itu hahaa (dan pas pulang cerita ke mama, kata mama gue agak kurang sopan nanyanya haha, maaf ya mbak yang waktu itu). Untungnya, kedua orang perempuan itu berbaik hati mengantar kita sampai ke depan Yomie’snya. Di sepanjang perjalanan, kita berempat jadi membahas bahasa Mandarin.
Jadi kawan, kalau mata kita sipit belum tentu kita bisa berbahasa Mandarin. Bisa dibilang kita berempat gak bisa bahasa Mandarin, hanya saja gue dan Nova punya basic Mandarin karena pernah belajar sebentar. Terkadang, kita semua ingin menguasai sesuatu hal dan merasa menyesal tidak melakukannya sejak dahulu. Andai… waktu bisa terulang kembali.
Yomie’s KL

Yuhuuuu, akhirnya salah satu itinerary kita tercapai! Kita berempat udah excited banget begitu melihat toko Yomie’s dari kejauhan. Nah, kalau kalian lagi di daerah Bukit Bintang kalian bisa masukin di google maps “Machi Machi” karena letaknya tepat di depan café Machi ini. Nah, di sebelah kirinya ada Tealive. Tapi, kalau kalian gak ketemu Machi-Machi di Google Maps, kalian bisa datang ke mall Lot 10 karena lokasi Yomie’s berada di dekat sini.
Untuk minumannya sendiri, gue bilang enak. Kali ini kita berempat memesan 3 menu yang berbeda dimana gue memesan Jujube Oats Yoghurt, Joan memesan Straw to My Berry, sedangkan Bella dan Nova memesan menu andalan mereka yaitu Yomie’s Purple Rice Yoghurt. Minumannya? Enak banget! Apalagi kita ditraktir Joan karena ulang tahunnya. HAHAHAH (kita malak sebenarnya sih).
Dari tokonya sendiri sebenarnya Yomie’s gak terlalu besar, bahkan hanya ada beberapa bangku (sekitar 5 kalau gak salah) dan mayoritas orang memesan untuk dibawa pergi. Kalau mendeskripsikan minumannya… menurut gue orang Taiwan itu sangat kreatif menciptakan trend makanan, mulai dari Shinlin, Boba sampai sekarang Yoghurt yang dicampur ketan hitam? Awalnya, gue penasaran apakah rasanya enak atau justru aneh karena kombinasi yang tidak biasa tersebut. Ternyata, minumannya beneran enak. Ini bukan sejenis minuman ringan seperti cola atau boba loh. Bahkan, untuk satu gelas aja kalian bisa kekenyangan.
Dari ketiga jenis minuman, gue lebih suka minuman gue sendiri hahaha karena menurut gue enak banget. Biasanya jujube ini gue makan di ayam tim obat (dengan citarasa asin pahit) dan sekarang? Gue malah menikmati banget rasa jujube yang dicampur dengan oats dan yoghurt. Oke, kedua kita bahas Purple Rice Yoghurt andalan dari Yomie’s ini. Rasanya juga sama enak, hanya saja gue kurang familiar dengan tekstur ketan hitamnya. Biasa gue memakan ketan hitam dalam kondisi panas, lembek dan menggunakan santan dan di sini kita disuguhkan dengan cara yang berbeda. Tapi, kembali lagi ke selera kalian masing-masing, menurut gue minuman ini juga enak kok bahkan rasanya pas buat orang yang gak suka minuman manis hanya saja tidak mewujudkan ekspektasi gue. Dan terakhir Straw to My Berry yang memberikan rasa asam alami dari buah strawberry dan menurut gue rasanya paling mudah ditebak untuk kalian yang belum pernah minum Yomie’s sebelumnya. Overall, gue merekomendasikan kalian untuk mencoba Yomie’s meski harganya a little bit pricey, sekitar 14-17 RM (atau sekitar 49-60 ribu dalam rupiah).
Jalan Alor
Buat kalian pencinta kuliner, kalian wajib banget datang ke jalan ini karena sepanjang perjalanan kalian akan melihat berbagai variasi makanan. Mulai dari makanan berat sampai snack sekalipun. Kalau dulu gue datang ke sini, jalanannya lebih sempit karena yang jualan kurang tertata. Tapi begitu datang kemarin, jalan Alor lebih rapi, bersih dan menyediakan lebih banyak tempat duduk. Di jalan Alor ini lebih banyak makanan ketika malam hari kalau di siang hari, kalian Cuma akan menemukan beberapa resto atau kedai makanan yang buka. Kali ini gue akan membagikan jajanan yang paling enak ala gue:

- Dimsum
Buat kalian yang suka dimsum, menurut gue dimsum di sini selain murah rasanya enak. Kalian bisa membeli secara satuan maupun per porsi dan satu buah dimsum sendiri ukurannya lumayan besar. Nah kalau per porsi kalian bakal dapat 8 buah siomay. Kalau di Bandung, jujur aja gue jarang menemukan dimsum enak selain yang ada di restoran makanan Chinesse. Kadang ada yang dagingnya amis, ada juga yang cuma rasa tepung. Tapi bisa dibilang, dimsum di sini sangat enak karena dagingnya banyak, ukurannya besar dan bahkan kalian bisa pilih sesuai selera mau yang pedas atau tidak. Nah, buat kalian yang seperti kita boleh banget nih bungkus bawa pulang dan dipanasin besok pagi buat sarapan, masih sama enaknya loh.
P.S: kalau kalian berempat kayak kita, lebih baik jangan beli 1 porsi per orang karena ternyata dimsum ini bikin kenyang. Kita bahkan masukin freezer dan berakhir membuang beberapa siomay dengan percuma. Saran gue, cukup 2-3 porsi untuk 4 orang. Sebenarnya kita kepikiran buat makan setengah (4 biji) pas malam, terus sisanya buat sarapan. Karena kekenyangan, akhirnya semua buat sarapan.
- LutLut aka LokLok
Ini adalah makanan favorit gue di Malaysia. Jadi sebenarnya modelnya itu mirip sate tapi konsepnya lebih simple. Jadi biasanya kalian bakal melihat banyak jenis sate dengan ujung warna yang berbeda. Nah masing-masing warna itu menandakan harganya. Harganya sendiri mulai dari 3 RM sampai 15 RM (mulai dari 10.500 sampai 52.500) Variasi sate ini mulai dari sayur-sayuran, baso-baso yang biasa digunakan dalam suki, sampai berbagai jenis daging. Jadi kalian tinggal pilih sate yang menurut kalian menarik, terus kasih ke orangnya. Biasanya kalian ditanya apa satenya itu mau dibakar atau direbus biasanya. Nah kalau direbus kalian bisa dapat kuahnya. Kalau gue biasa memilih dibakar aja karena menurut gue agak menyeramkan ya direbus soalnya orang sering makan di tempat sambil asal nyelup setelah setengah makan. Gue udah parno duluan membayangkan air liur banyak orang tercampur di dalam kuahnya itu. Pokoknya, LutLut ini enak banget! Kalau gue biasa makan yang sate brokoli sedangkan mama gue suka yang okra. Biasa kita juga beli yang scaloop (kerang), pernah juga mencoba yang terong (kalau gue pribadi gak suka karena teksturnya jadi lembek gitu).
P.S: Lutlut ini enak dimakan waktu panas, begitu dia dingin jadinya gak enak karena mentega yang diolesin jadi mengeras kalau kalian pilih yang sayur pun, sayurnya jadi layu dan rasanya gak enak.
- Durian Goreng
Kalau di Malaysia, durian yang terkenal enak itu Musang King. Tapi, sampai saat ini gue juga belom mencoba durian mahal itu hahahah tapi intinya bukan itu, ternyata di KL ada durian goreng yang enak! Bahkan banyak sekali channel di youtube yang udah merekomendasikan durian goreng ini. Kedai ini sebenarnya nggak Cuma menjual durian goreng. Ada juga pisang goreng, nangka goreng, pokoknya semua gorengan ada dijual sama dia. Tapi, yang benar-benar terkenal itu durian gorengnya. Gue bisa bilang kalian gak akan kecewa kalau beli ini, biasanya dia dipaketin 3 buah durian goreng 10 RM (kira-kira 35.000 dapat 3 buah). Isi dalam durian goreng ini benar-benar daging duren dan mirip banget dengan makan durian biasa. Dibandingkan membeli durian utuh di jalan Alor, gue merekomendasikan durian goreng ini yang lebih ekonomis dan lebih pas buat kantong backpacker.
Jujur aja, waktu itu kita nggak makan banyak karena udah kenyang banget gara-gara segelas Yomie’s. Padahal biasa porsi makan kita bisa dibilang banyak. Di antara kita berempat, biasanya gue yang tangkinya paling lebar (alias makan banyak), kedua Joan (tapi dia lebih kuat nyemil chiki dibandingkan makanan berat), kalau Bella dan Nova seperti bunglon, mereka bisa menyesuaikan keadaan. Bedanya, kalau Bella lebih kuat nyemil snack, kalau Nova lebih kuat makan makanan berat. Sekadar informasi tambahan, di antara kita berempat Nova yang paling lama makannya, makanya dulu kita suka panggil dia inces (a ka princess) ahhahah, peace Nov. Meski kita belum terlalu banyak jalan (baru banyak jalan di daerah Bukit Bintang) dan itinerary kita juga baru dikit yang terchecklist, baterai kita udah low karena perjalanan hari ini dan barang belanjaan Eureka yang beratnya minta ampun. Akhirnya, kita mengungsi di bangku dimsum. Jadi, biar kita bisa duduk di sana tanpa diusir itu kita muterin jalan Alor bergantian. Pertama, gue sama Bella duluan baru Joan dan Nova. Yang gue ingat soal jalan Alor bukan lagi makanannya, tapi cerita apa yang kita bahas waktu itu. Gue lebih banyak mengobrol sama Bella karena pas Nova dan Joan muter jalan Alor mereka beli nasi hainan gitu buat besok pagi. Obrolan kita udah mulai dari perkuliahan, kehidupan cinta (ehem, Bella), sampai gimana rasa khawatir kita soal masa depan. Gue selalu suka ngobrol sama mereka waktu momen seperti ini. Meski kita berempat terhitung jarang ngobrol di grup WA atau Line tapi begitu kita ketemu dan ngobrol gue merasa kalau kita sering kali berakhir dengan deep talk.
Mungkin segini dulu cerita gue soal perjalanan KL gue part 1, dimana itinerary gue berantakan hahaha dan tanpa diduga tergantikan dengan segelas Yomie’s gratisan. Karena setelah dari jalan Alor, kita berempat udah pulang ke apartemen. Kita naik grab buat ke apartemen dari jalan Alor dengan harga 11 RM atau per orang 2.75 RM. Kawanku, nanti habis corona kita kerja dulu kumpulin duit biar bisa jalan berempat lagi ya hahaha. Buat kalian yang membaca cerita ini, ikutin aja perjalanan kita yang tediri dari 4 part ya hohoho. See you!
ITINERARY DAY 1 (RENCANA AWAL)








































