Kabur ke KL ?!? KL Trip Part 1 (29 Jan ’20)

Bisakah kalian percaya orang mageran yang jarang kemana-mana pas jeda kampus akhirnya main bareng sampai keluar negeri? Di cerita ini kalian akan bertemu dengan empat orang mageran yang biasanya suka merencanakan perjalanan, terus berakhir dengan omong doang dan bertengger di kosan setiap jeda mata kuliah. Bahkan kita jalan berempat aja bisa dihitung jari karena kita cuma keluar kalau ada special occasion seperti ngerjain tugas atau ulang tahun. Sebelum gue mulai lebih lanjut, perkenalkan dahulu kepada 3 teman gue yang telah mengisi 3-3,5 tahun perkuliahan gue.

Pertama, mari berkenalan dengan Joan, anak ARMY yang sering kali punya dunia sendiri dengan mas-mas BTSnya dan yang paling polos (meskipun dia umurnya tidak muda lagi). Kedua, ada Novani, anak yang paling mager di antara kita berempat dan sepertinya paling normal, Novani inilah sang empunya kos yang sering kita bajak hahaha mulai dari tempat ngerjain tugas, tempat bobo siang, tempat naruh printan skripsi sampai jadi basecamp kita. Ketiga, ada Bella, teman paling tua yang masih setengah normal dan bucin setengah mati sama Lee Jong Suk dan Lee Seung Gi (bahkan di bandara dia melihat standee Lee Seung Gi udah girang sendiri loncat-loncat). Bisa dibilang, di antara kita berempat, Nova lah yang paling alim dan normal (karena dia tidak tergoda perihal oppa ganteng hahaha). Gue udah berteman dengan Joan dari pra-kuliah (jadi kita ada sejenis matrikulasi sebelum masuk kuliah), sedangkan berteman dengan Nova di semester 1 dimana kita satu kelompok bareng. Nah, anggota import kita, yaitu Bella baru bergabung ketika perwalian semester 2.

Dan kali ini, kita berempat akan pergi ke Kuala Lumpur! Di perjalanan kali ini gue akan menjadi tour guide ala-ala (padahal biasanya mama gue yang jadi tour guide dan gue hanya terima beres) dibantu dengan mereka yang menyusun itinerarynya. Bahkan, sampai gue menulis ini gue masih gak menyangka kita bakal “jadi” pergi. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka selebrasi lulus sidang sekaligus “menikmati hidup” sebelum akhirnya benar-benar terjun ke dalam dunia kerja dan bergelut dengan kesibukan masing-masing.

Kuala Lumpur bisa menjadi awal travelling kalian loh karena negara ini mirip sekali dengan Indonesia. Bahasa yang digunakan juga melayu, jadi kita tidak perlu bersusah payah berbicara dalam bahasa inggris atau mandarin. Kemana-mana pun kalian bisa naik MRT (download maps MRT) atau nanya ke orang kounternya. Kalau kalian berempat kayak kita? Sisa naik grab dan ongkosnya dibagi empat. Bedanya, menurut gue Kuala Lumpur sudah tergolong agak canggih bahkan lebih “bebas” ketimbang di Indonesia. Kalau kalian datang ke Kuala Lumpur saat bulan puasa pun, kalian nggak perlu khawatir gak ada yang jualan makanan. Bahkan, banyak banget orang-orang muslim yang masih berjualan seperti biasanya. Cuaca di Kuala Lumpur pun agak mirip dengan Jakarta, sedikit pengap dan panas. Karena itu, menurut gue Kuala Lumpur dapat menjadi opsi bagus untuk kalian yang baru terjun dunia travelling atau jalan-jalan singkat bareng teman kalian.

Jadi, kita berempat akan berangkat melalui bandara Bandung pukul 8.30 dan janjian untuk kumpul jam 6.30. Nah di sini gue, Nova dan Bella udah kumpul duluan dan disusul Joan yang datang belakangan. Begitu Joan muncul kita bertiga langsung tercengang dan panik sendiri. Jadi teman-teman, kita itu beli tiket pesawat tanpa bagasi saat penerbangan pergi, secara otomatis kita cuma dapat jatah bagasi kabin 7 kg dengan kapasitas 20’. Dan Joan, muncul dengan membawa koper besar yang biasa dimasukin bagasi. Mengingat ini kembali, gue jadi ngakak. Membayangkan mata Nova yang nyaris melompat keluar, ditambah muka frustasi Bella dan Joan yang datang sambil dadah-dadah ke kita dengan polosnya. Waktu itu kita udah bilang ke Joan peraturan-peraturan bagasi kabin kayak gak boleh lewat dari 7kg, cairan gak boleh lewat dari 100ml per barang, dan lainnya. Kita gak kepikiran kalau ukuran koper belum kita bahas ke Joan karena asumsi kita semua udah dikasih tahu wkkwk jujur aja, ini salah satu kejadian terlucu di perjalanan kita. Gue bakal menjadikan ini bagian dari memori terindah gue di KL. Kata Joan, koper ukuran kabin punya dia rusak (dan setelahnya dia kasih tahu kalau gemboknya doang yang rusak coba hahaha). Singkat cerita, Joan akhirnya mengeluarkan 500 ribu untuk membeli bagasi di tempat, dan kita bertiga yang nyesek.

Waktu itu, virus Corona belum masuk ke Indonesia dan belum se-booming sekarang ini. Kasus di Kuala Lumpur saat itu masih 8 orang dan sebenarnya kita agak was-was untuk pergi. Karena itu kita berempat kemana-mana pakai masker. Sesampainya di Kuala Lumpur, kita langsung dihadapi dengan imigrasi yang panjangnya naujubilah. Kita bahkan mengantri sampai 2-3 jam dan itu di luar semua rencana kita. Bisa dibilang itinerary kita di hari itu udah berantakan banget. Padahal perkiraan kita itu imigrasi bakal agak sepi karena banyak virus gini jadi orang banyak yang takut jalan-jalan. Ternyata, semakin banyak turis-turis China yang datang segerombolan sama keluarganya (meski kayaknya mereka juga bawa surat keterangan sehat sih). Bisa dibilang itinerary kita di hari itu berantakan total.

Rencana awalnya, kita berempat itu jam 14.30 jam sana udah sampai di apartemen yang kita sewa terus langsung mandi dan pergi ke KLCC dan Suria KLCC. Setelah itu kita ke Bukit Bintang baru malamnya pergi ke jalan Alor. Tapi, jam 3.30 sore kita baru keluar imigrasi terus langsung nyari makan di foodcourt bandara. Kalau kalian sampai ke KLIA2 pastiin buat naik ke lantai 3M terus cari foodcourt dan begitu masuk kalian bisa keliatan yang jualan nasi kandar gitu. Jadi dia tipenya kayak nasi padang ala warteg. Di sini ada telur cumi dan telur ikan yang jarang ditemukan, dan percayalah ini enaknya kebangetan. Gak kuat enak banget ih pengen bungkus! Tapi, kalau menurut teman-teman gue yang makan nasi pakai ayam gorengnya bilang kalau nasi kandarnya cuma lumayan enak. Kembali lagi ke selera kalian ya.

Setelah makan, kita berempat harus cari kartu SIM. Tadinya, Nova udah nawarin kita buat beli online. Tapi gue malah bilang harganya bisa lebih murah di sana. Ternyata gue salah, kartu SIM di KL mahal juga loh hehehe jadi lebih baik kalian beli lewat online dulu. Provider yang biasa banyak dipakai itu Digi, Celcom dan Tune Talk. Nah, kebetulan kita beli yang Tune Talk yang harganya 100 RM (dapat 30 gb) dan sayang sekali lebih baik kalian beli lewat Klook dulu karena bedanya sekitar 20-30 ribuan.

Jadi dari bandara buat ke kota, kita perlu naik bus. Kalian harus turun ke lantai 1 (lihat di petunjuk bandara aja) dan beli tiket. Kalian sisa bilang ke mbak kounternya kalau tujuan kalian itu KL Sentral, setelah itu ngantri di platform yang dikasih tahu mbaknya buat nunggu busnya datang. Perjalanan ini membutuhkan sekiranya 45-60 menit jadi kalian bisa bobo cantik sekejap dulu. Nah sesampainya di KL Sentral, kalian bakal sampai di basement dan harus naik lift/eskalator ke atas. Di KL Sental, bisa dibilang ini pusat semua MRT, LRT, KTM dan lainnya. Yang perlu kalian lakukan hanya cari tahu tujuan kalian itu dekat ke jalur yang warnanya apa, terus beli tiketnya dan ciao, simple banget.

Setelah membeli tiket di loket, kalian bakal dikasih koin buat ditap waktu mau masuk ke jalur kereta dan koin itu gak boleh sampai hilang karena sesampainya di tujuan, kalian harus mengembalikan koin itu dengan cara dimasukkan ke mesinnya. Kalau kalian menghilangkan koin itu? Kalian gak bisa keluar atau bahkan harus beli tiket lagi.


REGALIA SUITES

Karena Regalia Suites ini jadi tempat kami menginap selama trip ini dan merupakan kali pertama gue menginap di apartemen ketika jalan-jalan maka gue ingin membahas apartemen ini lebih menyeluruh

  • Informasi

Informasi lebih lanjut: https://www.upperview-regalia.com/

Cara Pergi: naik KTM dari KL Sentral ke Putra (2 RM)

Informasi Pemesanan: https://www.airbnb.com/rooms/33547151?source_impression_id=p3_1588252693_4Zv%2BJ1qIpmrAPGhH&guests=1&adults=1

Check In:

Lokasi check in ada di lobby dan agak susah dicari karena dia cuma satu meja di sudut gitu dan buat orang yang baru pertama kali ke sana menurut gue bakal kurang sadar dengan lokasi itu. Tapi buat kalian yang cari counter check in, patokannya itu mesin cuci koin. Kalau kalian udah liat mesin cuci itu, berarti kalian udah menemukan counter check in-nya soalnya berada tepat di depannya.

  • Fasilitas

Bisa dibilang, Regalia seperti apartemen pada umumnya, bahkan lebih baik lagi. Mulai dari keamanannya, gue merasa kalau keamanan di sini cukup aman. Begitu mau masuk tower kita harus tap security card dulu dan di lift pun juga pakai kartu dan di setiap tower apartemen, ada satpam yang berjaga. Nah, untuk kalian yang sudah check in biasanya akan disuruh nulis data diri seperti nama dan nomer paspor kalian. Selanjutnya di bagian lobby, di sini ada dua mini market, 3M dan Ola Market. Nah, menurut gue daripada kalian ke supermarket, kalian tinggal ke mini market di sini saja karena harganya beda tipis (dan lucunya, ada beberapa yang susah gue cari kemana-mana akhirnya ditemukan di sini).

Buat kalian yang pengin menghemat biaya air minum, di lobby ini ada mesin refill air putih berbayar. Jadi kita hanya perlu masukin koin dan menyediakan tempat minumnya (lebih baik bawa botol ukuran besar). Dan terakhir sekaligus highlight yang paling gue suka dari Regalia adalah kolam renangnya. Bayangkan, tiap tower ada masing-masing kolam dengan konsep berbeda. Meski nggak besar, menurut gue ini sangat memuaskan. Tapi kolam renang yang membuat kita pengin nginep di sini adalah infinity pool yang ada di lantai 38. Kalian bisa berenang dengan latar gedung tinggi Kuala Lumpur dimana salah satunya ada Twin Tower dan KL Tower. Mantep banget!

  • Ruangan

Secara keseluruhan gue cukup suka konsepnya. Meski tipe studio, pemiliknya cukup pintar untuk mengatur ruangan. Ada dapur, meja makan, rak sepatu, lemari pakaian, beserta kasur dengan ruang santai mini. Di bagian dapur, peralatan masak cukup memadai (meski tidak selengkap yang gue bayangkan) dan terdapat microwave yang bisa kalian gunakan untuk memanaskan makanan.

Nah untuk tempat tidur, sebenarnya ini gimana kalian atur aja. Pemilik menyediakan satu tempat tidur ukuran double, satu tempat tidur single dan sofa empuk yang bisa kalian gunakan juga. Pemiliknya juga menyediakan pengganti seprai dan beberapa helai selimut tipis yang bisa kalian gunakan. Di bagian kamar mandi juga cukup bersih, bahkan terdapat mesin cuci jika kalian lama berada di sini dan mereka menyediakan sabun gratis (hahaha). Kalau dari nilai 10, gue akan memberikan nilai 8.75 untuk ruangan ini.

Oh ya, ada bagian yang gue lupakan yaitu kalau sewa apartemen di pemilik ini ada kena charge room cleaning sebesar 60 RM untuk 4 hari penginapan kita dan ternyata, room cleaning ini cuma dilakukan waktu kita selesai menginap. Awalnya kita kira bakal tiap hari dibersihin sih, jadi agak sedikit mengganggu soal sampah-sampah yang menumpuk untungnya, di seberang kamar kita itu bak sampah dekat tangga darurat.

  • Akses

Mama gue biasa paling suka mencari tempat yang aksesnya enak kemana-mana dan akhirnya, gue benar-benar setuju dengan perkataan mama gue. Sebenarnya, kita ini karena berempat kemana-mana pakai grab. Efisien gak perlu jalan buat ke MRT tapi juga harganya sama aja dan kita hanya perlu turun ke lobby dan duduk manis sepanjang perjalanan. Tapi, kalau kalian mau menggunakan kendaraan umum, menurut gue di Regalia enak banget. Kalian hanya perlu jalan paling 5 menit buat ke KTM Putra (200 meter dari apartemen) dan itu bisa ke KL Sentral, jadi kalian bisa tukar kereta di sana. Selain itu juga, kalau kalian mau ke Batu Cave juga lebih dekat dengan estimasi perjalanan 20-30 menit (kalau dari KL sentral bisa 45-50 menit). Nah, kalau kalian mau naik yang lain bisa juga LRT PWTC (500 meter) atau Monorail Chow Kit (1 km), berhubung gue gak memakai kedua jalur kereta ini, jadi gue gak bisa membahas lebih lanjut. Oh ya satu lagi, dekat sini pun ada sebuah mall bernama Sunway Putra yang cukup lengkap. Awalnya gue pikir mall ini mall jadul yang kayaknya gak ada apa-apa. Eh, ternyata asumsi gue salah besar! Ada bioskop, supermarket, daiso bahkan banyak sekali gerai makanan buat kalian cicipi.


Nah, kembali lagi kepada cerita kita, karena udah kesorean dan perjalanan kita hari ini udah nggak sesuai itinerary, makanya kita langsung ke Pavillon buat mengunjungi salah satu café yang sebelumnya kita temukan di Instagram. Jadi, gue Bella dan Nova berencana untuk memberikan surprise ala ala untuk teman kita yang bulan Desember lalu berulang tahun, Joan. Meski surprisenya berakhir tidak jelas dan aneh banget, tapi ada satu memori dimana kita merayakan ulangtahun teman kita ini secara fancy di luar negeri. EHEM, buat Joan Bella dan Nova, kalian jangan lupa suatu hari nanti rayain ultah gue ala fancy gini ya hahahha.

Jadi, sebenarnya kalau kalian jalan-jalan ke daerah Bukit Bintang, kalian akan menemukan banyak sekali mall yang berdekatan, bahkan beberapa mall memberikan jalan tembus. Vibesnya mirip sekali dengan Kelapa Gading Mall yang ada di Jakarta, hanya saja… jelas mall di Kuala Lumpur lebih besar dan bahkan, per mallnya itu ada sudut south north atau apapun itu. Jadi bisa dibilang, menjelajah di Bukit Bintang membuat kalian pulang-pulang memasang koyo. Dan daripada kalian bingung, kalian harus cari informasi terlebih dahulu di website mall dimana letak tujuan kalian. Nah, untuk café ini letaknya di dalam mall Pavillion KL lantai 6 (Centre Court) dan untuk sampai ke Pavillion, kita berempat menggunakan Grab seharga 12 RM dari Regalia Suites. Kalau misalkan kalian cuma berdua, gue sarankan banyak naik kereta, kalau kalian berempat kayak kita? Mendingan naik Grab kemana-mana. Contohnya ini aja, 12 RM dibagi 4 jadinya seorang cuma 3 RM (sekitar 10.500 per orang), harganya kurang lebih kalau naik kereta tapi keuntungannya kita diantar sampai di depan pintunya hahaha.


MIRU CAFE

Konsep minimalis serba putih ini cocok buat kalian yang pengin nongkrong cantik dan menikmati sepotong kue untuk memperbaiki mood. Kali ini kita mencicipi salah satu varian kue yaitu: Brown Sugar Fresh Milk Mille Crepe, rasanya? Enak! Manisnya pas untuk sejenis kue boba ini. Bobanya juga kenyal dan lembut, tapi kekurangannya adalah… kue ini tergolong mahal menurut gue. Satu slice kue dihargai 19 RM (kalau dalam rupiah 66.500). Gue gak tahu buat kalian yang pencinta kue merasa ini mahal atau tidak. Tapi karena kita masih anak kuliah yang tidak berpenghasilan jadi menurut kita ini mahal hahaha (ketawan bokeknya). Kita berempat sampai makannya seujung sendok semua saking gak pengin kuenya cepat habis hahaha. Untuk sekali coba? Mungkin kalian bisa coba kalau bawa budget lebih. Tapi sebenarnya, kalau dipikir-pikir harganya kurang worth it (meski emang rasanya enak)


Setelah kita mengunjungi Miru Café, kita akhirnya muter ke Daiso yang selalu ramai. Gue masih gak paham kenapa di Indonesia Daiso itu gak laku ya? Di luar negeri entah kenapa Diaso itu selalu ramai dan menurut gue tuh barangnya bagus-bagus. Gue sedih Daiso gak laku di sini. Nah, untuk Daiso sendiri gue kira yang gede itu di Pavillion aja. Eh ternyata, di Sunway Putra ada Daiso yang lebih sepi dan lebih lengkap HUHU. Bertempat di lantai 3, lantai tempat Daiso ini berada memberikan vibes ala jejepangan. Banyak resto atau aneka cemilan Jepang yang dijual di sini. Tapi, gue nggak akan mereview camilan itu, yang gue akan review adalah Eureka! Popcorn hits yang jadi saingan Garret (Singapura).


EUREKA POPCORN

Saran gue setelah membeli Eureka di Pavillion adalah JANGAN BELI EUREKA DI SINI. Pertama, pelayanannya buruk banget karena mereka bakal maksa kalian beli ukuran besar meski kalian maunya yang ukuran sedang. Kedua, mereka pelit banget ngasih gratisan padahal kita beli banyak banget (padahal mereka ada standar khusus pas kasih gratisan). Jadi awalnya kita berempat mikir mau beli pas di Genting, karena kata mama gue di Genting ngasih gratisannya banyak. Tapi, begitu ketemu di Pavillion kita mikir udah sekalian aja beli biar nanti di Genting nggak bawa banyak barang. Eh, tahunya… kita berempat malah beli satu tas gede.

Di semua cabang harga Eureka sama yang bikin beda cuma jumlah gratisan yang kalian dapatkan. Saran gue, kalian boleh beli Eureka waktu ke Central Market. Orang yang jaga toko di sana baik dan ramah banget. Padahal kita juga belinya nggak banyak tapi dikasih gratisannya banyak (bahkan gratisannya terasa lebih worth it ketimbang yang kita terima pas beli di Pavillion)

Hal yang paling lucu ketika kita berempat di Eureka adalah kita kebingungan mau beli rasa apa karena saking banyaknya varian rasa yang mereka punya. Mulai dari asin hingga manis, kalian bisa mendapatkan apapun yang kalian inginkan. Bahkan, saking banyaknya kita mencoba tester, kita sampai gak tahu apa yang enak. Kalau varian rasa yang menurut kita enak:

  • Joan: Butterscotch, Green Tea Choc (matcha), butter caramel popcorn
  • Nova: Butterscotch, Seasalt, Corn
  • Bella: Butterscotch, Sour n Cream
  • Fiony: Butterscotch, Cocoa Malt, Green Tea Choc (matcha), Seaweed

YEP, kita berempat emang sepakat banget butterscotch enak parah. Kita sampai beli 1 bungkus patungan buat makan berempat selama di KL (meski ujung-ujungnya kita jadi ngeberatin tas karena dibawa doang dan ujungnya dimakan di rumah juga hahaha).


Setelah kita beli Eureka, rencananya itu kita mau ke Jalan Alor buat makan malam sekaligus beli sarapan buat besok. Oh ya, for your information, ternyata bukan di Indonesia doang yang susah nyari masker. Di luar negeri pun sama susahnya. Joan udah masuk ke dalam semua Guardian/Watson dan bahkan semua minimarket yang kita temui buat beli masker tapi masih aja gak ketemu, bahkan di depan toko orang-orang udah sampai pasang tulisan semacam “MASKER KOSONG”. Nah, begitu kita keluar dari mall, di sepanjang jalan itu masih ramai. Mungkin karena waktu itu corona masih belum seramai sekarang. Masih belum ada social distancing, belum ada juga PSBB dimana-mana. Hanya saja 70% orang di jalanan sudah memakai masker. Di sepanjang jalan Bukit Bintang banyak banget orang yang jual masker (yang semacam Sensi) per satuan, tapi kata Joan mereka mencurigakan dan maskernya keliatan kayak bekas, jadi dia nggak beli.

Nah, tapi poinnya bukan itu hohoho. Kebetulan, kita berempat melihat dua orang Chinese (perempuan) yang jalan sambil minum Yomie’s terus gue bilang ke mereka mau gak nyari sekarang, biar besok gak nyari Yomie’s lagi. Nah, sebenarnya Yomie’s ini udah masuk itinerary kita, dan saking penginnya kita nyobain Yomie’s kita sampai berulang kali ngatur itinerary hahaha. Akhirnya, kita nanya dimana lokasi Yomie’s ke orang itu. Gue dengan sok jago ngomong bahasa Mandarin nanya ke mereka. Gue nggak ngerti, kenapa waktu itu gue masih kepikiran ngomong bahasa Mandarin sama mereka, sekarang aja gue lupa sebenarnya gue tuh ngomong apa pas nanya itu hahaa (dan pas pulang cerita ke mama, kata mama gue agak kurang sopan nanyanya haha, maaf ya mbak yang waktu itu). Untungnya, kedua orang perempuan itu berbaik hati mengantar kita sampai ke depan Yomie’snya. Di sepanjang perjalanan, kita berempat jadi membahas bahasa Mandarin.

Jadi kawan, kalau mata kita sipit belum tentu kita bisa berbahasa Mandarin. Bisa dibilang kita berempat gak bisa bahasa Mandarin, hanya saja gue dan Nova punya basic Mandarin karena pernah belajar sebentar. Terkadang, kita semua ingin menguasai sesuatu hal dan merasa menyesal tidak melakukannya sejak dahulu. Andai… waktu bisa terulang kembali.


Yomie’s KL

Yuhuuuu, akhirnya salah satu itinerary kita tercapai! Kita berempat udah excited banget begitu melihat toko Yomie’s dari kejauhan. Nah, kalau kalian lagi di daerah Bukit Bintang kalian bisa masukin di google maps “Machi Machi” karena letaknya tepat di depan café Machi ini. Nah, di sebelah kirinya ada Tealive. Tapi, kalau kalian gak ketemu Machi-Machi di Google Maps, kalian bisa datang ke mall Lot 10 karena lokasi Yomie’s berada di dekat sini.

Untuk minumannya sendiri, gue bilang enak. Kali ini kita berempat memesan 3 menu yang berbeda dimana gue memesan Jujube Oats Yoghurt, Joan memesan Straw to My Berry, sedangkan Bella dan Nova memesan menu andalan mereka yaitu Yomie’s Purple Rice Yoghurt. Minumannya? Enak banget! Apalagi kita ditraktir Joan karena ulang tahunnya. HAHAHAH (kita malak sebenarnya sih).

Dari tokonya sendiri sebenarnya Yomie’s gak terlalu besar, bahkan hanya ada beberapa bangku (sekitar 5 kalau gak salah) dan mayoritas orang memesan untuk dibawa pergi. Kalau mendeskripsikan minumannya… menurut gue orang Taiwan itu sangat kreatif menciptakan trend makanan, mulai dari Shinlin, Boba sampai sekarang Yoghurt yang dicampur ketan hitam? Awalnya, gue penasaran apakah rasanya enak atau justru aneh karena kombinasi yang tidak biasa tersebut. Ternyata, minumannya beneran enak. Ini bukan sejenis minuman ringan seperti cola atau boba loh. Bahkan, untuk satu gelas aja kalian bisa kekenyangan.

Dari ketiga jenis minuman, gue lebih suka minuman gue sendiri hahaha karena menurut gue enak banget. Biasanya jujube ini gue makan di ayam tim obat (dengan citarasa asin pahit) dan sekarang? Gue malah menikmati banget rasa jujube yang dicampur dengan oats dan yoghurt. Oke, kedua kita bahas Purple Rice Yoghurt andalan dari Yomie’s ini.  Rasanya juga sama enak, hanya saja gue kurang familiar dengan tekstur ketan hitamnya. Biasa gue memakan ketan hitam dalam kondisi panas, lembek dan menggunakan santan dan di sini kita disuguhkan dengan cara yang berbeda. Tapi, kembali lagi ke selera kalian masing-masing, menurut gue minuman ini juga enak kok bahkan rasanya pas buat orang yang gak suka minuman manis hanya saja tidak mewujudkan ekspektasi gue. Dan terakhir Straw to My Berry yang memberikan rasa asam alami dari buah strawberry dan menurut gue rasanya paling mudah ditebak untuk kalian yang belum pernah minum Yomie’s sebelumnya. Overall, gue merekomendasikan kalian untuk mencoba Yomie’s meski harganya a little bit pricey, sekitar 14-17 RM (atau sekitar 49-60 ribu dalam rupiah).


Jalan Alor

Buat kalian pencinta kuliner, kalian wajib banget datang ke jalan ini karena sepanjang perjalanan kalian akan melihat berbagai variasi makanan. Mulai dari makanan berat sampai snack sekalipun. Kalau dulu gue datang ke sini, jalanannya lebih sempit karena yang jualan kurang tertata. Tapi begitu datang kemarin, jalan Alor lebih rapi, bersih dan menyediakan lebih banyak tempat duduk. Di jalan Alor ini lebih banyak makanan ketika malam hari kalau di siang hari, kalian Cuma akan menemukan beberapa resto atau kedai makanan yang buka. Kali ini gue akan membagikan jajanan yang paling enak ala gue:

  • Dimsum

Buat kalian yang suka dimsum, menurut gue dimsum di sini selain murah rasanya enak. Kalian bisa membeli secara satuan maupun per porsi dan satu buah dimsum sendiri ukurannya lumayan besar. Nah kalau per porsi kalian bakal dapat 8 buah siomay. Kalau di Bandung, jujur aja gue jarang menemukan dimsum enak selain yang ada di restoran makanan Chinesse. Kadang ada yang dagingnya amis, ada juga yang cuma rasa tepung. Tapi bisa dibilang, dimsum di sini sangat enak karena dagingnya banyak, ukurannya besar dan bahkan kalian bisa pilih sesuai selera mau yang pedas atau tidak. Nah, buat kalian yang seperti kita boleh banget nih bungkus bawa pulang dan dipanasin besok pagi buat sarapan, masih sama enaknya loh.

P.S: kalau kalian berempat kayak kita, lebih baik jangan beli 1 porsi per orang karena ternyata dimsum ini bikin kenyang. Kita bahkan masukin freezer dan berakhir membuang beberapa siomay dengan percuma. Saran gue, cukup 2-3 porsi untuk 4 orang. Sebenarnya kita kepikiran buat makan setengah (4 biji) pas malam, terus sisanya buat sarapan. Karena kekenyangan, akhirnya semua buat sarapan.

  • LutLut aka LokLok

Ini adalah makanan favorit gue di Malaysia. Jadi sebenarnya modelnya itu mirip sate tapi konsepnya lebih simple. Jadi biasanya kalian bakal melihat banyak jenis sate dengan ujung warna yang berbeda. Nah masing-masing warna itu menandakan harganya. Harganya sendiri mulai dari 3 RM sampai 15 RM (mulai dari 10.500 sampai 52.500) Variasi sate ini mulai dari sayur-sayuran, baso-baso yang biasa digunakan dalam suki, sampai berbagai jenis daging. Jadi kalian tinggal pilih sate yang menurut kalian menarik, terus kasih ke orangnya. Biasanya kalian ditanya apa satenya itu mau dibakar atau direbus biasanya. Nah kalau direbus kalian bisa dapat kuahnya. Kalau gue biasa memilih dibakar aja karena menurut gue agak menyeramkan ya direbus soalnya orang sering makan di tempat sambil asal nyelup setelah setengah makan. Gue udah parno duluan membayangkan air liur banyak orang tercampur di dalam kuahnya itu. Pokoknya, LutLut ini enak banget! Kalau gue biasa makan yang sate brokoli sedangkan mama gue suka yang okra. Biasa kita juga beli yang scaloop (kerang), pernah juga mencoba yang terong (kalau gue pribadi gak suka karena teksturnya jadi lembek gitu).

P.S: Lutlut ini enak dimakan waktu panas, begitu dia dingin jadinya gak enak karena mentega yang diolesin jadi mengeras kalau kalian pilih yang sayur pun, sayurnya jadi layu dan rasanya gak enak.

  • Durian Goreng

Kalau di Malaysia, durian yang terkenal enak itu Musang King. Tapi, sampai saat ini gue juga belom mencoba durian mahal itu hahahah tapi intinya bukan itu, ternyata di KL ada durian goreng yang enak! Bahkan banyak sekali channel di youtube yang udah merekomendasikan durian goreng ini. Kedai ini sebenarnya nggak Cuma menjual durian goreng. Ada juga pisang goreng, nangka goreng, pokoknya semua gorengan ada dijual sama dia. Tapi, yang benar-benar terkenal itu durian gorengnya. Gue bisa bilang kalian gak akan kecewa kalau beli ini, biasanya dia dipaketin 3 buah durian goreng 10 RM (kira-kira 35.000 dapat 3 buah). Isi dalam durian goreng ini benar-benar daging duren dan mirip banget dengan makan durian biasa. Dibandingkan membeli durian utuh di jalan Alor, gue merekomendasikan durian goreng ini yang lebih ekonomis dan lebih pas buat kantong backpacker.


Jujur aja, waktu itu kita nggak makan banyak karena udah kenyang banget gara-gara segelas Yomie’s. Padahal biasa porsi makan kita bisa dibilang banyak. Di antara kita berempat, biasanya gue yang tangkinya paling lebar (alias makan banyak), kedua Joan (tapi dia lebih kuat nyemil chiki dibandingkan makanan berat), kalau Bella dan Nova seperti bunglon, mereka bisa menyesuaikan keadaan. Bedanya, kalau Bella lebih kuat nyemil snack, kalau Nova lebih kuat makan makanan berat. Sekadar informasi tambahan, di antara kita berempat Nova yang paling lama makannya, makanya dulu kita suka panggil dia inces (a ka princess) ahhahah, peace Nov. Meski kita belum terlalu banyak jalan (baru banyak jalan di daerah Bukit Bintang) dan itinerary kita juga baru dikit yang terchecklist, baterai kita udah low karena perjalanan hari ini dan barang belanjaan Eureka yang beratnya minta ampun. Akhirnya, kita mengungsi di bangku dimsum. Jadi, biar kita bisa duduk di sana tanpa diusir itu kita muterin jalan Alor bergantian. Pertama, gue sama Bella duluan baru Joan dan Nova. Yang gue ingat soal jalan Alor bukan lagi makanannya, tapi cerita apa yang kita bahas waktu itu. Gue lebih banyak mengobrol sama Bella karena pas Nova dan Joan muter jalan Alor mereka beli nasi hainan gitu buat besok pagi. Obrolan kita udah mulai dari perkuliahan, kehidupan cinta (ehem, Bella), sampai gimana rasa khawatir kita soal masa depan. Gue selalu suka ngobrol sama mereka waktu momen seperti ini. Meski kita berempat terhitung jarang ngobrol di grup WA atau Line tapi begitu kita ketemu dan ngobrol gue merasa kalau kita sering kali berakhir dengan deep talk.

Mungkin segini dulu cerita gue soal perjalanan KL gue part 1, dimana itinerary gue berantakan hahaha dan tanpa diduga tergantikan dengan segelas Yomie’s gratisan. Karena setelah dari jalan Alor, kita berempat udah pulang ke apartemen. Kita naik grab buat ke apartemen dari jalan Alor dengan harga 11 RM atau per orang 2.75 RM. Kawanku, nanti habis corona kita kerja dulu kumpulin duit biar bisa jalan berempat lagi ya hahaha. Buat kalian yang membaca cerita ini, ikutin aja perjalanan kita yang tediri dari 4 part ya hohoho. See you!

ITINERARY DAY 1 (RENCANA AWAL)

Itinerary Terpadat! 8 Tempat Wisata Dalam Waktu 8 Jam – Day 2 (19 Jan ’20)

Menurut gue, haram hukumnya kalau jalan-jalan tidak explore kota itu secara menyeluruh (alias cuma di hotel dan explore sekitarnya), apalagi gue termasuk orang yang sekalinya jalan keluar subuh sebelum matahari terbit dan pulang sering kali nyaris tengah malam. Maka dari itu, mari kita mulai perjalanan kita:

Woojin Haejangguk


  • Jam Operasional: 06:00-22:00
  • Alamat: 831, Samdo 2(i)-dong, Jeju-si, Jeju-do, Korea
  • Cara ke tempat ini: dari hotel gue cuma berjalan kaki sekitar 10 menit (kalian bisa ikutin naver maps)

Masih teringat dengan jelas bagaimana riuh mangkuk dan sendok berdenting di pagi itu. Padahal, matahari masih belum terbit dan hembusan angin membuat semua orang menggeliat kedinginan tetapi hal itu seakan tidak menghalangi produktifitas orang Korea. Dari subuh saja, resto ini penuh dan banyak yang mengantri. Sarapan di Woojin Haejangguk merupakan pengalaman pertama yang tak terlupakan tentang bagaimana gue harus memesan makanan tanpa mengerti satu hangeul pun. Padahal sebelumnya gue dan mama gue udah mencoba melakukan translate terlebih dahulu. Eh, sampai di sana semua malah buyar.

Buat kalian yang sama awamnya seperti gue, pasti merasa percuma menonton drama Korea selama ini. Akhirnya yang ada gue hanya asal menunjuk menu tanpa tahu sebenarnya apa yang gue pesan. Begitu makanan datang, gue baru tahu kalau yang gue pesan itu yachaejeon (yang harganya 15.000) dan momguk (posisi kedua dari kiri gambar).

Yachaejon merupakan pancake sayuran yang rasanya mirip sekali dengan gorengan bala-bala dengan isian seperti buncis dengan irisan cabai yang dapat menjadi jebakan kecil. Tetapi anehnya yanchaejon tidak memberikan tekstur crispy seperti yang gue bayangkan, bahkan bagian tengah pancake ini terasa seperti belum matang sepenuhnya. Pancake ini seharga 15.000 won (sekitar 190 ribu rupiah) dan menurut gue sangat tidak worth it jika dibandingkan dengan gorengan bala-bala yang menyajikan konsep serupa. Jujur aja, gue sedih sekali tidak bisa memakan ini sampai habis. Sebenarnya gorengan ini cukup unik dan masih bisa dimakan. Ukurannya yang berkisar 10-15 cm lebih cocok disantap untuk 4 orang.

Makanan kedua kita dan yang terutama adalah momguk yang merupakan salah satu makanan masterpieces dari Jeju. Jadi ceritanya di masa dulu itu pulau Jeju itu pulau miskin yang kekurangan makanan. Saat acara besar seperti pernikahan, warga Jeju akan berkumpul dan memasak momguk.  Sup ini dibuat menggunakan tulang babi yang direbus hingga mengeluarkan kaldu yang sedikit kental dipadu dengan rumput laut yang sepertinya diiris tipis. Di bagian atasnya terdapat potongan daun bawang segar dan wijen putih sehingga sup ini begitu wangi ketika dihidangkan. Menurut gue, sup ini sebenarnya enak akan tetapi cukup beratuntuk dijadikan sarapan sehingga satu porsi sup ini dapat dimakan dua orang. Sayangnya kita dilarang melakukan hal tersebut.

Untuk side dish kimchi sawi dan lobaknya bisa dibilang the best dari semua side dish kimchi yang gue makan di sana (meski semua kimchi bisa dibilang sangat lezat). Rasa lobak dan sawinya itu benar-benar segar, tidak pedas maupun terlalu asam. Menurut gue kombinasi rasa ini terbilang sangat pas dengan teksturnya yang kriuk. Bahkan gue berharap bisa membuat ASMR hanya dengan kimchi di Woojin. Pokoknya enaknya kebangetan! Oh ya, kalau misalnya kalian datang ke sini dan kehabisan side dish, kalian tidak perlu repot memanggil pelayan karena semua side dish di Woojin self-service (mereka menyediakan tempat yang isinya side dish semua). 

Sebenarnya, menu andalan dari Woojin Haejangguk itu yukgaejang (spicy beef soup with vegetables), meski bentukannya tidak menggoda entah mengapa mayoritas orang yang makan di sana memesan menu tersebut dan setelah pulang gue melihat review orang yang mengatakan kalau rasanya enak banget. Anehnya, kenapa gue nggak menunjuk makanan orang saja ya? Mungkin ini pertanda harus balik lagi ke sana (HEM, MAUNYA AJA ITU MAH HAHA)

Menu andalan Woojin Haejangguk

Sebelum membahas perjalanan itinerary terpadat, gue akan menjelaskan bagaimana gue berkeliling Jeju. Sebelumnya sudah gue bahas kalau Jeju itu pulau yang besar ditambah lagi dengan jarak antar tempat wisata yang jauh. Kalau menurut beberapa pengalaman orang, kalian bisa kok memakai bus untuk menghemat biaya. Tetapi, karena waktu gue sedikit dan gue ingin mengexplore banyak tempat, akhirnya gue menyewa taxi. Di sisi lain, gue juga tidak menyesali keputusan ini. Setelah sampai di sana, gue menyadari bahwa bus jarang lewat dan jalanan itu sepi. Coba bayangkan, gue sendirian bersama angin kencang akibat winter menunggu bus yang datangnya bisa sampai setengah jam sekali. Bisa-bisa gue mati kedinginan duluan. Oke deh, kembali lagi ke topik dimana gue akan mulai perjalanan dengan 8 tempat dalam kurun waktu 8 jam:

Yongduam Rock


Yongduam Rock yang indah
  • Alamat: Yongdamroteo-ri Yongdam-2dong, Jeju-si, Jeju-do
  • Jam Buka: 24 jam
  • Estimasi Biaya: free

Lokasi pertama perjalanan ini membuat mata gue terbuka lebar. Jeju memang sebagus itu, berpadu dengan suasana tenang yang seolah mengajarkan bahwa kita perlu duduk sejenak. Yongduam Rock terkenal dengan batu karang yang dikatakan berbentuk kepala naga. Alkisah seekor naga mencuri giok berharga dari gunung Hala di Jeju dan membuat para dewa marah. Dewa itu membunuh naga tersebut sehingga tubuhnya membentur karang, kemudian kepalanya berubah menjadi batu.

Uniknya, batu di pulau Jeju berwarna hitam dengan warna laut yang berwarna biru muda sehingga terlihat seperti diedit menjadi warna pastel. Meski lokasinya cukup kecil, tempat ini cocok untuk duduk bersantai mendengarkan suara ombak dan burung berkoak bahkan mengobrol dengan orang terdekat sambil melihat pesawat yang melintasi angkasa.

P.S: Apa cuma gue yang merasa kalau Yongduam Rock ini mirip siluet Night Fury dari “How To Train Your Dragon“?

MYSTERIOUS ROAD


Mysterious Road yang unik
  • Alamat: 2894-63 1100(Cheonbaek)-ro, Nohyeong-dong, Jeju-si, Jeju-do, Korea Selatan
  • Jam Buka: 24 jam
  • Estimasi Biaya: free

Jalanan ini unik banget! Bagaimana bisa mobil yang dimatikan dapat berjalan sendiri bahkan minuman kaleng dapat menggelinding sendiri sementara jalan begitu rata dan terlihat menanjak lurus? Jalanan ini ditemukan oleh sepasang suami istri yang menepikan mobil untuk mengambil foto. Ternyata, mobil mereka berjalan sendiri padahal sudah direm. Alhasil, jalanan ini menjadi terkenal dengan nama dokkaebi road (jalanan siluman)

Sebenarnya jalanan ini cuma sekitar 100 meter jadi, kalian tidak perlu lama-lama mampir ke tempat ini. Cukup duduk di mobil dan melihat keajaiban alam, atau mungkin turun dari mobil dan taruh kaleng minuman kalian di jalanan. Beberapa orang juga bilang kalau kalian menuangkan air, air tersebut akan mengalir ke atas. Tapi gue tidak mencoba metode ini karena menurut gue kayaknya tidak mungkin juga bisa mengalir ke atas soalnya masih ada gravitasi. Oh ya, jangan lupa untuk foto sebagai bukti kalau kalian pernah datang ke tempat ini.

HALLASAN (HALLA MOUNTAIN)


Hallasan ketika winter
  • Alamat: 2070-61, 1100-ro, Jeju-si, Jeju-do (제주특별자치도 제주시 1100로 2070-61)
  • Jam Buka: sepertinya selalu buka (kalau jam buka setiap jalur pendakian bisa dicek di google)
  • Estimasi Biaya: Free

IT’S THE BEST PART OF MY JOURNEY! Winter tidak akan pernah lengkap tanpa adanya salju dan Hallasan merupakan satu-satunya tempat dimana kamu dapat melihat salju di Jeju. Sebetulnya, gue cukup was-was sebelum datang ke sini soalnya ada beberapa orang dari grup backpacker yang memposting kalau mereka tidak menemukan salju di hallasan. Gue dan mama gue cuma bisa berdoa semoga saja kita bisa ngelihat salju.

Ternyata, begitu gue sampai di lahan parkiran, lokasi ini turun salju! Di sepanjang perjalanan kalian bisa melihat kalau salju bertengger manis di dahan pohon, menutupi sisi jalanan dan membuat lokasi ini nyaris seperti Narnia. Meski hujan salju yang turun tidak lebat, setidaknya, gue bisa merasakan bagaimana salju tersebut meleleh di helai rambut dan berfoto ala-ala winter. Meski Jeju merupakan tempat terhangat di Korea Selatan, Hallasan sendiri bersuhu sekitar 2 derajat celcius. Kalau kalian bertanya-tanya apakah di Hallasan dingin, jawabannya dingin banget! Tentunya kalian harus melengkapi diri kalian dengan perlengkapan perang yang sesuai. Seperti gue yang memakai longjohn + sweater + jaket, 3 lapis celana khusus winter dan sarung tangan.

Sebagai perlindungan tambahan jangan lupa juga membawa topi winter (karena udara dingin dapat membuat kepala kalian sakit), tempelkan body heatpack ke baju kalian dan masukkan hand warmer ke dalam saku jaket kalian. Bawa juga minuman panas di termos, percayalah air hangat itu sangat membantu ketika kalian kedinginan. Oh ya, ada lagi keuntungan lain dari winter menurut gue yaitu: kalian tidak perlu kelihatan langsing di foto. Kalau kalian terlihat bulat, kalian tinggal bilang kalau baju winter itu tebal dan besar.

Hallasan merupakan gunung tertinggi Korea Selatan dengan ketinggian 1.950 meter dan menjadi bagian dari UNESCO world natural heritage sejak 2007. Hallasan ini juga dipercaya sebagai salah satu gunung keramat di Asia selain Gunung Fuji di Jepang dan Gunung Hyang di China. Kalau kalian tertarik, kalian bisa mendaki Hallasan dengan estimasi waktu 4 jam untuk mencapai puncak. Di puncak sendiri dikatakan selalu bersalju dan sangat bagus. Kalau gue sih bakal mengibarkan bendera putih, bahkan kalau emang gue mendaki ke atas, gue rasa gue baru sampai waktu petang. Karena itu gue cuma bermain di area bawah pintu masuk dekat pepohonan. Jiwa anak-anak gue mulai bergejolak seperti membuat bola salju gagal, berbaring di salju dan melakukan angel swing, melemparkan salju di udara seperti tanpa beban dalam hidup.

Aneh, tekstur salju seperti es serut ya

Meskipun winter membuat bunga mengering bahkan pepohonan kehilangan daun, salju-salju ini memiliki cara sendiri untuk membuat winter semakin indah. Salju-salju seolah memeluk ranting-ranting rapuh dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Lucunya lagi, banyak sekali pepohonan yang berjuang tanpa menyerah meski udara dingin yang menusuk tulang. Tanpa sadar, winter mengajari gue banyak hal dan membuat gue berharap untuk bertemu dengan salju lagi.

YONGMEORI COAST


Wonderful scenery of Yongmeori Coast
  • Alamat: 18-10, Sanbang-ro, Andeok-myeon, Seogwipo-si, Jeju-do
  • Telepon: +82-64-794-2940
  • Estimasi Biaya: yongmeori coast (adult: 2000 won, youth & children: 1000 won), yongmeori + sangbangsan (adult: 2500 won, youth & children: 1500 won)
  • Jam Operasional: ketika air tidak pasang

Yongmeuri Coast merupakan tempat wisata yang menurut gue tempat yang menarik dan bertempatan dekat gunung Sanbangsan. Tempat ini merupakan formasi tertua yang terbentuk dari volcanic (erupsi lava) dan entah kenapa kalau di foto Yongmeori memiliki “vibe” yang serupa dengan Antelope Canyon yang ada di Arizona, Amerika Serikat. Yongmeori memiliki arti “kepala naga” dan menjadi Jeju Geopark. Meski sama-sama berarti kepala naga dengan Yongdam Rock, Yongmeori memiliki sebuah legenda yang berbeda.

Dari legenda tersebut dikatakan kalau Emperor Jin dari China mengirimkan banyak prajurit untuk membunuh naga Yongmeori karena ia khawatir akan ada kemunculan sebuah pemimpin yang hebat dari Yongmeori (Naga disimbolkan sebagai pemimpin hebat telah lahir). Jadi, ketika naga tersebut masuk ke dalam laut, prajurit itu memotong kepala naga dan darahnya menyembur kemana-mana. Melihat hal tersebut Hallasan menjadi murka dan dewa mengirimkan angin topan untuk membunuh semua prajurit China tersebut sebagai pembalasan.  

Dari lapangan parkir kalian masih perlu berjalan masuk untuk menuju loket pembayaran, kalian akan melihat sebuah kapal besar di sebelah kanan dan ladang canola di sebelah kiri. Kapal ini merupakan Hamel Castaway Memorial untuk mengingat Hendrick Hamel, seorang pelaut Dutch yang terdampar ke pantai Jeju karena angin topan pada 1653.

Hamel Castaway Memorial

Begitu masuk ke dalam coast, percayalah kalian akan terpana dengan batu-batu indah yang seolah dipahat perlahan oleh seseorang. Di sebelah kiri terdapat coast dan di sebelah kanan terdapat lautan. Kalau kalian memutari lokasi ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam. Pastikan kalian memakai sepatu yang sesuai dan berjalan dengan hati-hati karena ombak yang menghempas seringkali meninggalkan genangan air pada jalanan berbatu ini.

Saat gue datang ke sini, terdapat sekumpulan bapak-bapak yang memancing di sini berlatarkan Gunung Sangbangsan sehingga terlihat seperti lukisan. Di beberapa sudut juga kalian bisa menemukan tante/nenek yang berjualan nakkji seperti sea cucumber, octopus maupun sea snail. Menurut gue, lokasi ini memiliki keunikannya sendiri dengan bebatuan yang indah dan suasana yang tenang. Ditambah lagi lokasi ini cocok dengan hamba konten! AHAHHA di setiap sudut Yongmeori sangat instagramable. Kalian tidak perlu bergaya macam-macam agar terlihat bagus di dalam foto karena orang-orang akan lebih kagum dengan pemandangan yang ada.

Kalau kalian datang ke sini, alangkah baiknya kalau datang di pagi hari karena semakin sore ombak akan semakin besar dan lokasi ini akan ditutup (dikatakan kalau jam tutupnya 13:00). Kalau mau lebih yakin lagi, kalian bisa menelepon terlebih dahulu untuk memastikan kalau tempat ini buka. Begitu kalian keluar, kalian bisa melihat kembali ladang canola dan kapal besar tadi. Kalau kalian mau foto di ladang canola, kalian perlu membayar sebesar 1000 won per orang. Di dekat kapal Hamel sendiri terdapat patung yang gue tebak merupakan patung Hamel. Kalau kalian ada waktu lebih, bolehlah kalian mampir dan ngopi cantik di café yang terlihat bagus ini.

Coffee Sketch

Cheonjeyeon Falls


  • Alamat: Korea Selatan, Jeju-do, Seogwipo-si, Jungmun-dong, 2232
  • Estimasi Biaya: Adult 2500 Won, Children & Adult 1350 Won
  • Jam Operasional: 08:00-18:00

Kalau kalian mau ke sini gue ingatkan jangan sampai salah spelling atau ngetik untuk ngasih tahu ke supir kalian. Soalnya di Jeju ada waterfall yang namanya mirip: Cheonjiyeon (cuma beda 1 huruf loh tapi lokasinya beda). Cheonjeyeon dikatakan sebagai pond of the emperor of heaven. Menurut legenda, tempat ini menjadi tempat mandi tujuh bidadari, seperti legenda Jaka Tarub milik kita. Bedanya, orang Korea tidak mengambil selendang bidadari hahaha. Cheonjeyeon sendiri memiliki tiga tingkatan air terjun.

Dari pintu masuk, gue berjalan dan bertemu dengan Cheonjeru Pavilion yang menjadi tempat berlangsungnya festival 7 bidadari. Setelah itu terdapat sebuah jembatan yang dinamakan Seonimgyo Bridge yang berarti jembatan 7 bidadari. Beberapa orang sering berfoto di jembatan ini atau berlatarkan jembatan ini. Sayangnya karena banyak ranting pepohonan, jembatan ini jadi kurang terlihat. Dan dari sini kalian akan melihat papan petunjuk menuju tingkatan pertama.

NOTE: persiapkan kaki kalian karena lokasi ini cukup membuatmu berolahraga.

Air terjun pada tingkatan pertama ini hanya ada saat hujan lebat, jadi kalau tidak hujan kalian hanya akan melihat sebuah kolam raksasa yang menjadi sumber dua air terjun lainnya. Kolam ini sedalam 21 meter dan pada zaman kuno akan ada orang yang berdiri di bawah air terjun pada hari Cheoseo (pada akhir Agustus) untuk menerima air suci yang dikatakan dapat menyembuhkan penyakit dalam sebulan. Tapi, saat ini lokasi ini melarang pengunjung untuk berenang, berendam atau masuk ke dalam air (mungkin karena takut ada korban yang terseret air atau serangan jantung karena airnya dingin). Air di kolam ini sangat biru dan jernih hingga kalian dapat melihat bebatuan di dalam kolamnya. Sayangnya, lokasi ini berbahaya kalau hujan lebat, tapi mengunjungi kolamnya saja sudah dapat mencuci mata.

Lanjut ke tingkatan kedua, kalian perlu berjalan dan menuruni anak tangga sekitar 500 meter. Karena kemalasan yang melanda, gue dan mama gue Cuma foto dari anak tangga atas dan jelas, setelah pulang ke rumah kita menyesal tidak mendatangi air terjun yang kedua ini. Di fotonya bagus dong, dan menurut beberapa orang lokasi air terjun kedua merupakan yang terbaik di antara ketiganya. Jadi, kalau kalian datang ke sini pokoknya jangan pantang menyerah untuk jalan ya.

Dan dari tingkatan kedua kalian perlu berjalan lagi sekitar 1 km (jelas gue udah bye bye sama air terjun ini) dan gue lihat dari blog beberapa orang mereka fotonya dari atas gitu, tidak sampai ke bawahnya. Jadi, gue kurang tahu juga apa kalian bisa turun ke air terjun yang ketiga.

Kalau kalian di sini, kalian bisa menemukan banyak tap water. Percayalah, air di sana super-duper enak. Semacam air gunung asli gitu yang dingin dan menyegarkan. Gue tidak tahu apa karena winter, atau memang airnya seperti itu. Tapi, air di sana merupakan air tap terbaik yang pernah ada. Gue baru kepikiran sekarang… apa tap water itu juga bisa menyembuhkan penyakit ya?

YAKCHEONSA TEMPLE


  • Alamat: 293-28 Ieodo-ro, Daepo-dong, Seogwipo-si, Jeju-do, Korea Selatan
  • Jam Operasional: tidak diketahui
  • Estimasi Biaya: Free

Kuil ini gede banget! Ditambah lagi dengan suasana hening dan tenang khas kuil Buddha. Yakcheonsa Temple telah berdiri sejak 1970 yang didirikan oleh biksu Buddha. Kuil ini dikatakan sebagai salah satu kuil terbesar di Korea dengan luas 3.305 meter dan tinggi 30 meter. Selain itu terdapat lonceng buddha seberat 18 ton dan memiliki aula doa terbesar dengan patung buddha mini yang berlapis kaca Di sepanjang jalan kuil ini terdapat pohon-pohon jeruk, dan gue menemukan buah jeruk terbesar yang pernah gue lihat. Jeruk itu sebesar dua telapak tangan gue yang disatukan! Daebak. Kalau gue baca dari wikipedia, dulu kuil ini disebut sebagai “Dwaeksaemi” yang berarti a mineral spring with good quality water. Dikatakan kalau mata air mineral itu dapat menghapus penderitaan semua makhluk hidup, makanya kuil ini didirikan dengan tujuan tersebut. Kalau menurut gue sendiri, temple ini sangat bagus untuk foto karena ornamen di dalamnya sangat berwarna.

Jusangjeolli Cliff


  • Alamat: 36-30, Ieodo-ro, Seogwipo-si, Jeju-do
  • Estimasi Biaya: Adult 2000 won, children & youth 1000 won
  • Jam Operasional: 09:00-18:00

Lokasi ini terletak tidak jauh dari ICC Jeju (International Convention Center) yang merupakan satu-satunya ICC di pulau Jeju. Percaya atau tidak, lokasi ini jauh lebih dingin dari pada Hallasan yang mempunyai salju. Aneh bukan? Hal ini dikarenakan angin sore yang bertiup sangat kencang sampai-sampai gue kesulitan untuk foto karena udaranya yang dingin terus membuat kamera gue jadi berkabut. Winter dan sore hari sepertinya bukan kombinasi yang tepat untuk datang ke Jusangjeolli Cliff.

Jusangjeolli Cliff yang dinobatkan menjadi UNESCO Geoparks merupakan pilar batu (tebing) yang terbentuk dari lava erupsi Hallasan yang bermuara ke laut Jungmun. Struktur tebing ini sendiri unik sekali karena ia menyerupai pilar yang bertumpuk secara vertikal. Belum lagi ditambah dengan deburan ombak yang membuat tebing ini semakin eksotis.

Tapi yang tidak bisa gue lupakan dari tempat ini bukannya yang fenomenal, tetapi odeng yang dijual di sana. Sebenarnya ada beberapa makanan lain seperti octopus bread (pancake berbentuk gurita isi mozarela), sate octopus, bahkan es krim halabong. Tapi bisa dibilang, udara dingin membuatmu membutuhkan sesuatu yang hangat. Odeng beserta kuah panasnya sangat klop untuk menghangatkan dirimu.

O’ssuloc Tea Museum + Innisfree Café


Tempat terakhir yang menjadi target wisatawan adalah café innsifree dan O’ssuloc. Kedua café ini bersebelahan dan di daerah ini terdapat kebun teh asli milik O’ssuloc. Kesan pertama begitu gue turun di tempat ini adalah gue jadi inget Bandung. Kalau kalian main ke daerah atas, kalian bakal menemukan banyak sekali kebun teh. Bedanya, O’ssuloc dan Innisfree tidak pernah sepi. Menurut supir kami, tempat ini selalu ramai meski kalian datang pagi sekalipun.

  • Alamat: 15, Sinhwayeoksa-ro, Andeok-myeon, Seogwipo-si, Pulau Jeju
  • Estimasi Biaya: Free (kalau pesan makanan atau beli oleh-oleh beda lagi biayanya)
  • Jam Operasional: 09:00-18:00

O’ssuloc Tea Museum

Begitu masuk ke dalam café aroma yang dapat kalian cium adalah wangi teh hijau yang menenangkan dan ternyata teh hijau ini menjadi salah satu ciri khas dari Pulau Jeju. O’ssuloc ini dimiliki oleh perusahaan kosmetik terbesar di Korea: AmorePacific dan telah dibangun sejak tahun 80-an. Di dalam café ini kalian dapat melihat museum yang memajang berbagai jenis cangkir teh dari berbagai negara, etalase sejarah produk O’ssuloc, kemudian masuk ke dalam area yang menjual teh hijau bungkusan yang dapat jadikan sebagai oleh-oleh. Tapi, jangan terkejut dengan harga tehnya yang cukup mahal. Kalau menurut orang sana, begitu kalian sampai di Ossuloc café, kalian tidak boleh lupa untuk mencicipi minuman teh dan kue roll dari teh hijau yang enak sekali. Sayangnya, karena antriannya super-duper panjang gue memutuskan untuk tidak membeli kudapan tersebut. Menurut beberapa orang lainnya juga di sini ada kelas belajar membuat teh, tapi gue kurang tahu cara buat attend acara tersebut.

Innisfree Café

Bersebelahan dengan Ossuloc, Innisfree juga bisa menjadi tempat kalian buat berbelanja kosmetik. Di sini juga kalian dapat mengikuti kelas membuat sabun natural. Jadi kalian akan disuguhi video sederhana dan mengikuti prosedur pembuatan sabun dalam waktu 15-30 menit. Di Innisfree café ini terkenal dengan jeju tangerine jam dan jeju tangerine tea yang bisa kalian beli sebagai oleh-oleh (tapi mahal bruhhh, jiwa miskin gue berteriak hahaha). Karena gue tidak terlalu menyukai keramaian, akhirnya gue hanya foto-foto dan melihat pemandangan sekitar.


Samseonghyeol Haemultang


Setelah seharian berkeliling ke 8 tempat wisata, alangkah baiknya jika kita mampir di tempat makan yang enak. Apakah kalian pernah mendengar live seafood hotpot? Mari gue perkenalkan pada sup seafood terbaik yang pernah gue makan. Bahkan bisa dibilang makanan ini merupakan makanan yang paling gue rindukan dari Jeju. Kalau misalkan gue kasih nilai dari satu sampai sepuluh, gue akan memberikan nilai sepuluh ditambah keempat jempol tangan dan kaki yang gue punya untuk makanan ini. TOP banget deh.

Apa itu live seafood hotpot? Jadi sebenarnya resto ini menyajikan sup seafood hanya saja bedanya seafood di sini benar-benar dimasak hidup-hidup. Isi di dalam hotpot ini ada berbagai jenis kerang (mungkin sekitar 5 jenis atau lebih), abalon, cumi dan gurita, tauge dan 1 ekor kepiting yang dibelah dua.  Begitu kalian sampai, kalian bisa memesan porsi makanannya mulai dari untuk dua sampai lima orang. Buat kalian pencinta seafood, kalian bisa memesan porsi tiga orang seperti yang gue lakukan. Percayalah, awalnya gue pikir gue maruk dengan memesan porsi tiga orang padahal makannya cuma berdua. Tapi begitu menyicipi kuah sup ini, gue bahkan tidak bisa lagi menaruh sumpit dan sendok gue hingga makanan benar-benar habis.

Gue datang sekitar pukul 17:00 dan resto ini sudah lumayan ramai. Begitu pukul 17:30 atau 18:00 (gue kurang yakin) semakin banyak orang yang datang untuk makan. Mungkin jam segitu merupakan jam makan malam. Kalau gue lihat, semua orang cuma memesan seafood hotpot ini, banyak juga yang memesan soju dan makgeolli (arak beras). Di resto ini juga banyak menu lain yang berhubungan dengan seafood tetapi yang paling terkenal memang hotpotnya. Dan teman-teman, I really recommend this hotpot. Rasa seafoodnya begitu segar tanpa rasa amis sedikit pun, kuahnya sendiri tidak terlalu asin (bahkan sepertinya tidak menggunakan MSG) dan tidak pedas meski warnanya merah seperti kimchi jiggae.

Oh ya, di sini juga kalian hanya perlu makan karena ada pegawai yang datang membantu kalian seperti memotong gurita menjadi kecil-kecil, mengeluarkan semua daging kerang dari cangkangnya, dan memotong abalone. Kalian bakal disuruh makan cumi dan guritanya duluan karena tekstur keduanya itu akan semakin alot. Selain itu juga, kalian bisa memesan nasi yang tentunya enak disantap bersama kuah hotpot. Gue tahu ini kedengarannya bikin kenyang, tapi orang Korea di sana anehnya juga memesan nasi putih meski sudah diberikan mie (seperti shin ramyun tanpa bumbunya) secara gratis. Aneh sekali ya, kenapa orang Korea itu tubuhnya langsing-langsing padahal porsi makan mereka kelewat banyak?

Selain itu gue punya saran nih… lebih baik kalian memasak mie tersebut ketika hotpot kalian sudah setengah habis. Selain agar mie tidak membengkak, kaldu seafood dapat lebih menyerap dan dijamin enak banget. Shin Ramyun? Indomie? Beuh, rasanya lewat! Kalah banget dengan kegurihan seafood yang benar-benar fresh. Untuk side dish-nya, gue hanya bisa memakan dua macam; kimchi sawi dan teri. Sejujurnya pertama kali gue makan teri itu di sini, dan gue bilang side dish teri ini ENAK BANGET YAAMPUN. Enaknya tuh kebangetan. Teksturnya seperti teri pada umumnya tapi tidak ada bau amis sedikitpun dan ukurannya pas untuk dikunyah. Kalau side dish lainnya, gue kurang suka karena cenderung pahit dan aneh rasanya. Tapi secara keseluruhan, gue sangat suka sama makanan ini. Bahkan ketika gue mengetik part ini, gue sudah menelan air liur terus.


Sebagai akhir kata, gue menutup perjalanan hari kedua ini dengan sebuah tepuk tangan. Jeju benar-benar sebagus itu, dan di sini benar-benar tenang. Gue sampai jatuh cinta dengan Jeju dan berharap bisa pindah ke sini (mimpi aja dulu kan hahaha). Selain itu, makanan di sini mayoritas gue bilang enak banget pada gue sendiri termasuk orang yang rada picky kalau soal makanan.

Kalau dari sisi kalian membaca blog ini, tempat wisata mana yang paling membuat kalian tertarik? Kalau buat gue pribadi, Hallasan masih memegang piala emas di hati gue. Dan ternyata, semua bayangan soal winter yang menyeramkan itu buyar! Bahkan kata mama, winter suit me so well.

Oh ya, mungkin beberapa dari kalian bertanya-tanya kenapa gue bisa mendapatkan 8 tempat wisata dalam 8 jam? Kuncinya itu menurut gue pengendalian waktu a.k.a time management. Kalau misalnya tempat wisatanya bagus, kalian bisa atur terlebih dahulu spare waktu lebih lama di sana biar kalian tidak gigit jari belum puas explore tempat itu. Kalau misalkan tempat wisatanya cukup kecil atau cenderung biasa, lebih baik waktu buat explore-nya lebih sedikit.

Sebenarnya, dari setiap perjalanan tidak mungkin kita bisa explore semua tempat wisata (kecuali kalian pergi ke negara itu dalam kurun waktu yang cukup lama) apalagi, gue terbiasa “kabur” liburan dalam kurun waktu 4-5 hari. Jadi, selain pengendalian waktu menurut gue kunci penting lainnya adalah rencana perjalanan a.k.a itinerary

Rencana perjalanan itu harus disesuaikan sama keinginan kalian, biar kalian sendiri puas. Misalkan seperti gue dan mama gue, kita berdua suka hal yang berbaru alam dan kurang menyukai mengunjungi mall-mall. Jadi kita akan menyusun itinerary yang alam-alam begitu. Kalau misalkan dikaitkan dengan Jeju, sebenarnya banyak sekali tempat wisata lain yang sejalur dan terkenal. Untuk tahu tempat wisata apa saja yang bagus, kalian bisa melihat lewat instagram dengan hastag #Jeju atau mencari melalui Google tempat wisata rekomendasi khas Jeju. Tentunya, kalian harus membuat rencana perjalanan yang sejalur.

Jadi misalkan dari tempat wisata A ke B butuh waktu 1 jam, tapi kalau ke tempat wisata C dari tempat wisata A cuma butuh 15 menit. Sehingga susunan rencana perjalanan kamu itu bisa dari A ke C baru ke B. Kalau misalkan tipe kalian tipe tour, kalian bisa ikutin rencana perjalanan mereka. Tapi kalau misalkan tipe kalian yang seperti gue dan mama gue, kalian harus rajin searching-searching dan searching!

Jadi segitu aja penutup dari gue, semoga aja dengan chapter ini kalian bisa mendapatkan ilmu dan ikut jalan-jalan online. Ciao, fellas!

Jangan lupa untuk membaca part pertama dari Jeju dan ditunggu part ketiga dari Jeju ini ya…

Voyage to Jeju City Yuhu! – Day 1 (18 Jan ’20)

Siapa yang tidak tertarik dengan negeri para oppa ini? Apa lagi kalau kalian orang yang doyan nonton drama Korea pasti sudah sering tergiur dengan street food dan makanan Korea. Kebetulan, perjalanan kali ini membawa Fiony menuju Jeju.

Winter dan Jeju sebuah kombinasi paling mantap yang pernah gue rasakan. Pertama kali yang terlintas di benak gue ketika mama bilang kita ke Jeju pas winter adalah gue menggigil kedinginan bahkan pilek soalnya, Bandung saja sering kali tidak bersahabat dengan gue.

Patung Penjaga Jeju “Dol Hareubang” sejak 1754

Pulau Jeju merupakan pulau terbesar di Korea Selatan. Beruntungnya, kalian tidak memerlukan visa untuk datang ke Jeju (Update: Semenjak akhir Januari 2020, pemerintahan Korea sudah menerapkan visa untuk masuk ke Jeju dikarenakan virus Corona yang merajalela) dan kali ini, Fiony mencoba satu (1) musim baru yaitu Winter. Perjalanan kali ini berlangsung selama empat (4) hari dengan transit melalui Kuala Lumpur terlebih dahulu.

Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Jeju berlangsung selama enam jam! Percayalah, lebih baik kalian tidur dan makan di dalam pesawat. Jeju berbeda dua jam dari Indonesia. Jadi, misalkan di Jakarta pukul 13.00 di Jeju sudah pukul 15:00. Perkiraan suhu berdasarkan apps Windy sekitar 7 derajat celcius, tidak sedingin di Busan atau Seoul yang sudah mencapai minus! Akan tetapi, udara kencang di Jeju sering kali membuat gue nyaris membeku. Di Jeju sendiri matahari terbit pukul 07.30 dan matahari terbenam pukul 18.00, rata-rata toko tutup pukul 21:00.

JEJU STAZ ROBERO


Hotel Jeju ini berada di seberang Mokgwana Jeju (former goverment office) dan kurang lebih 15 menit dari Jeju International Airport menggunakan taxi (sekitar 2 km). Bisa dibilang, hotel ini oke banget untuk kalian yang pengin menjelajahi Jeju City. Dari depan hotel pun kalian bisa langsung masuk ke dalam Jungang Underground Shopping Center, dan menembus ke berbagai area salah satunya Dongmun Market. Apalagi di cuaca dingin seperti ini, menurut gue masuk ke Jungang dengan mudah merupakan keunggulan tersendiri. Kalian tidak perlu menerjang angin dan kedinginan untuk mengexplore Jeju dengan mudah.

Untuk kamarnya sendiri menurut gue sangat bersih karena setiap hari ada layanan pembersihan kamar. Hanya saja di kamar mandi nggak ada semprotan air sehingga cukup susah buat orang-orang Indonesia macam kita yang kalau pup harus melakukan “ritual” pembersihan khusus.

Hotel Staz Robero: https://www.traveloka.com/id-id/hotel/south-korea/staz-hotel-jeju-robero-1000000530002

JEJU MOKGWANA


  • Jam Operasional: 09:00-18:00
  • Alamat: 13 Gwandeong-ro 7(chil)-gil, Samdo 2(i)-dong, Jeju-si, Jeju-do, Korea Selatan
  • Harga Masuk: Adult (1500 won), Youth (800 won), Child (400 won)
  • Cara ke tempat ini: kalau gue cukup dengan menyebrang tempat ini, kalau kalian naik bus bisa naik nomer 200, 300, 500 (turun di terminal Gwandeokjeong (Mokgwana))

Jungang Underground Shopping Mall


Kalau dari depan Mokgwana, kalian bisa langsung melihat pintu masuk Jungang Shopping Mall. Shopping mall ini berada di bawah tanah (basement) dan menurut gue sangat amat menarik untuk dilewati. Di sini banyak sekali yang jualan baju (tapi masih mahal kalau kalian konversi ke IDR), sepatu, maupun skincare. Pokoknya, di bawah sini bisa jadi menjadi surga bagi kalian pengguna skincare Korea. Banyak sekali diskonan di sini contohnya enam handcream Tony Moly harganya 10.000 won, beli sheetmask 10 gratis 10, atau Nature Republic 3 jar dengan harga 13.200 won (sekitar 55 ribu rupiah per jar).

Tempat ini merupakan tempat yang layak dikunjungi bagi kalian yang mau memberikan oleh-oleh berupa skincare untuk teman dekat atau kerabat. Di sini banyak toko seperti Innisfree, Etude House, Tony Moly, Nature Republic dan lainnya. Tapi, kalau gue hitung harga Inisfree di sana beda tipis banget ya sama di Indonesia, jadinya gue nggak mampir-mampir ke sini hahaha.

Note untuk kalian:

  • Exit 2: Dongmun Market gate 4 (tepat di sebelahnya ada Daiso)
  • Exit 3: Chilsungro Shopping Center
  • Exit 5: Tapdong Square (ada Starbuck beberapa meter dari sana)
  • Exit 8: Jungangro Shopping Center
  • Exit 11: Jeju Mokgwana
  • Exit 12: Staz Robero Hotel

Oh iya, gue baru tahu juga ternyata ketika tokonya udah tutup pun kita bisa lewat jungang ini. Meski kadang penghangatnya sudah dimatikan, setidaknya kalian tidak ketiup angin gitu kedinginan. Gue pernah lewat Jungang jam 7 pagi sebelum dia buka dan setelah jam 9 setelah toko pada tutup.

Dongmun Market


Bisa dibilang Dongmun Market adalah lokasi yang paling gue kangenin di area Jeju City. Kalian wajib wajib wajib banget untuk mampir ke Dongmun Market lebih dari satu kali. Dongmun Market bisa dibilang sebagai “pasar” bagi orang Jeju. Di dalam sini kalian bisa lihat orang berjualan mulai dari sayur, ikan, daging, buah, oleh-oleh sampai street food.

Tara, kalian bisa slide untuk ikut jalan-jalan online Dongmun Market:

Sebenarnya, kunci untuk tahu makanan yang enak di Dongmun itu dengan cara menjelajahinya. Di sini ada banyak sekali makanan yang bisa kalian coba. Kalau kalian tertarik juga, kalian bisa makan makanan mentah kayak gurita yang dipotong hidup-hidup, sea cucumber, sea snail atau abalone. Kalau kalian ada di Jeju, jangan pernah lupa membeli jeruk halabong dan tangerine mereka karena jeruk mereka itu benar-benar manis ditambah lagi tanpa biji satu pun. Segar banget! Oh ya, fun fact-nya adalah jeruk khas Jeju ini justru panen di musim dingin loh.

Harga jeruk di sana pun bervariasi. Mulai dari 3000 won kalian sudah bisa menikmati jeruk manis ini loh. Dan sedikit saran dari gue, kalau kalian mau beli oleh-oleh lebih baik kalian explore dulu Dongmun. Jangan sampai kalian mengalami kejadian serupa seperti gue yang mendapatkan cokelat khas Jeju 10 box seharga 10.000 won (padahal dengan harga serupa kalian bisa dapat 15 box). Rasanya ulu hati (serta dompet) ini sakit sekali hahaha. Di Dongmun Market ini banyak banget pintu masuk dan pintu keluarnya. Tapi, ini ada sedikit guide pintu bagi kalian ya:

  • Gate 4: sayur, buah + oleh-oleh
  • Gate 8: street food gerobak
  • Gate 1: Hotteok
  • Gate 2: sayur, ikan, daging

Gue hanya mengingat sedikit gatenya saja, tapi kalau kalian masuk dari gate manapun sebenarnya bisa “nembus” kok. Yang perlu kalian lakukan adalah jalan menyusuri gang-gang, dan mereka punya papan direksional di bagian atas untuk memberitahu arah menuju tiap gate.

Dari gate 2, gue kebetulan menemukan sebuah restoran untuk makan ikan makarel di sebelah kiri tidak jauh dari gate. Kalau ada orang yang menawarkan kalian untuk beli ikan, tanya aja ke orangnya kalau mau makan di tempat bagaimana. Nanti dia bakal menunjukkan pintu masuknya

Gue udah penasaran banget sama marinated crab dari lama dan puncaknya itu pas drama “When The Camellia Blooms“. Akhirnya, di sini ada dong! Saat pertama kali mencoba, gue akhirnya mengerti mengapa kepiting di sana bisa di-marinated. Jadi kepiting di sana itu cangkangnya tidak keras seperti kepiting lokal kita. Rasa marinated crab-nya jelas asin sekali, tapi sangat cocok bersanding dengan bubur abalone yang disajikan sedikit hambar.

Selain itu, rasa ikan makarelnya top banget! Kalian wajib banget makan ikan di Jeju karena di sini ikannya benar-benar segar dan bahkan daging ikannya terasa manis dan tidak ada rasa amis sedikit pun. Jadi cuma di-grill aja udah kerasa manis dan enak banget. Untuk rasa bubur abalonenya sebenarnya tidak terlalu spesial, tapi kalian harus cobain setidaknya satu kali karena Jeonbokjuk ini merupakan bubur khas dari Jeju. Dari satu sampai sepuluh, kuberikan nilai sembilan untuk makanan ini. Ya ampun, saat mengetik ini saja gue udah merindukan makanan Jeju.

  • Jam Operasional: 08:00-21:00
  • Alamat: 20 Gwandeong-ro 14(sipsa)-gil, Idoil-dong, Cheju, Jeju-do, Korea Selatan
  • Cara ke tempat ini: masuk lewat jungang dan keluar di exit 2

DOMBEDON (NON HALAL)


Kalian pasti pernah dengar makanan khas Jeju yang namanya Black Pork. Nah, sekarang ini kita sedang mencoba makanan non halal yang selalu dibilang surgawi sama para youtuber atau artis Korea. Dan kebetulan dari Dongmun Market kalian bisa jalan kaki ke tempat ini (atau mungkin naik taxi kalau kalian malas jalan). Jadi, di sana black pork itu berada di satu area gitu dimana di kanan kiri sepanjang jalan itu isinya restoran black pork.

Kimchinya pedas, tapi begitu ikut dipanggang rasanya jadi enak dan tidak pedas lagi. Aneh bin ajaib

Jadi di resto Jeju, kamu harus pesan dua porsi untuk dua orang. Kalau misalnya kamu mau bagi dua sama teman atau keluarga kamu ya, tidak bisa. Ini aja gue pesan porsi dua orang, tapi sampai tidak habis makanannya. Porsi orang Korea entah kenapa besar sekali. Padahal gue biasanya doyan makan dan porsi makan gue juga bukan porsi kucing. Tapi, di Korea, makanan gue sering kali tidak habis.

Cara panggangnya juga sama seperti resto-resto BBQ di Indonesia. Nanti setelah dipanggang kalian bisa bungkus pakai daun selada. Tapi di sana ada satu jenis daun lagi namanya Perilla. Gue nggak suka banget sama jenis daun yang satu ini soalnya rasanya agak mint-mint gitu dan manis. Tekstur daunnya kayak ada sedikit bulu-bulu gitu. Pokoknya aneh banget lah hahaha.

Sedangkan dagingnya sendiri, gue merasa rasanya oke. Kalau dinilai dari dagingnya aja tanpa dibungkus daun, samchan lemaknya tidak eneg kayak daging di Indonesia ya. Lembut banget fix. Bahkan tidak ada bau-bau khas babi gitu. Dagingnya chewy dan enak menurut gue. Tapi, i’m not a fan of pork jadi gue kurang merindukan makanan ini. Jadi, ya kayak buat sekadar mencoba dan gue tidak berpikir ingin makan ini lagi (kalau misalnya dikasih kesempatan balik ke Jeju). Tapi buat kalian yang doyan daging babi, ini jelas makanan yang bisa memuaskan kalian.

Dari semua resto gue makan, Dombedon memberikan side dish terbanyak. Mereka tidak pelit memuaskan pelanggan mereka. Foto di atas merupakan side dish yang kami terima dan gue menyukai kimchi jjigae dan telur kukus mereka. Ada juga kimchi, tauge, rumput laut dan fish cake yang diberi bumbu manis. Gue sendiri tidak mengenal nama side dish satu per satu, tapi semuanya enak banget banget, kecuali bagian daun bawang dan yang berwarna pink (sepertinya lobak).

Kalau side dish kalian habis, angkat aja tangan kalian dan bilang ke orangnya sambil menunjuk mangkuk kosong kalian: “igo jusseyo” yang artinya tolong yang ini lagi. Hahaha, act like a local. Dan kalian bisa pesan nasi goreng yang menurut orang enak banget. Tapi, sayang sekali nasi goreng ini menggunakan perilla leaf, jadi gue tidak bisa makan. Gue cuma mencoba 2-3 suap dan akhirnya menyerah. Uniknya, karena nasi ini di”oseng” di tempat kita bakar daging, wangi dari daging dan kimchi terasa masuk ke dalam nasi dan ada kerak nasi yang membuat tekstur nasi goreng ini lain dari yang biasanya.

Source: Mytravelbuzzq
  • Jam Operasional: 11:00-00:00
  • Alamat: 25 Gwandeong-ro 15(sibo)-gil, Geonip-dong, Jeju-si, Jeju-do, Korea Selatan
  • Harga makanan: 2 porsi daging + nasi goreng 49.000 won

Jadi…. segitu dulu diary gue untuk hari pertama di Jeju City. Jangan lewatkan juga day 2 dengan itinerary yang padatnya naujubilah. Ciao, fellas.